Forum Finance
- Coba untuk beranikan DIRI... dek_orekoop
- krisis global... madamadaa
- Bukan Kampanye Politik : ... Realistis
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 13/11/2008 13:22 WIB
Teman Satu Sekolah, Dirut Garuda Lupa Wajah Obama -
Kamis, 13/11/2008 11:34 WIB
Mittal Bukan Lagi Orang Terkaya -
Kamis, 06/11/2008 19:27 WIB
Sofyan Djalil, Si Spesialis Menkeu Ad Interim -
Jumat, 31/10/2008 11:17 WIB
Sri Mulyani Terinspirasi Spiderman -
Kamis, 30/10/2008 22:39 WIB
Sri Mulyani, 2 Penghargaan di Tengah Berbagai Ujian -
Minggu, 26/10/2008 14:37 WIB
Purnomo Kewalahan Hadapi Anak-anak
Indeks Berita
Senin, 14/01/2008 10:33 WIB
Anwar Nasution Curhat di Buku
Dadan Kuswaraharja - detikFinance

Anwar Nasution (Foto: Dok detikcom)
Curhat itu bisa ditemui dalam buku yang berjudul "Pokok Pikiran Anwar Nasution: Menuju Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Negara". Buku itu berisi kumpulan artikel dan makalah sang ketua BPK.
Buku itu diluncurkan bersamaan dengan hari ulang tahun BPK ke-61 yang jatuh pada Senin (14/1/2008) dan dirayakan di kantor BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
"Buku ini murni pikiran dan hasil kerja saya karena semua pidato dan makalah saya tulis sendiri," ujarnya.
Pria kelahiran Tapanuli Selatan, 5 Agustus 1942 itu pun memberikan bukunya secara simbolis kepada para mantan ketua BPK antara lain JB Sumarlin.
Dalam sambutannya, Anwar mengatakan bagi mereka yang mengikuti tulisannya, dapat mengetahui bahwa penyebab krisis utama tahun 1997-1998 adalah karena buruknya informasi pasar karena buruknya transparansi dan akuntabilitas keuangan di sektor negara.
"Pada gilirannya, informasi yang buruk itu telah membua pasar nasional menjadi tidak efektif dan tidak efisien sehingga meningkatkan biaya transaksinya," papar Anwar.
Deregulasi dan privatisasi selama masa orde baru tidak dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, alasannya adalah karena deregulasi dan privatisasi itu hanya memindahkan hak monopoli dari sektor negara ke sekelompok kroni penguasa.
"Pendapat pribadi itu sudah saya kemukakan sebelum terjadinya krisis. Untuk itu memperbaiki transparansi dan akuntabilitas sektor negara itulaha kenapa saya menerima jabatan sebagai Deputi Gubernur Senior BI pada periode 1999-2004 dan sebagai Ketua BPK setelah itu," ujarnya
(ddn/qom)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Profesor Sadli, si Pengkritik yang Rendah Hati
- Robert Chandran, sang Enterpreneur of The Year
- Sofyan Djalil Rela Ngos-ngosan
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
