Forum Finance
- Kapan upiah menguat????... fuajuar
- Rupiah terus anjlok menuj... shiyilang
- Memahami riba perbankan... JOXZIN
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Rabu, 26/11/2008 10:48 WIB
Jual Beli KIK EBA Dibatasi Maksimal 10% -
Kamis, 20/11/2008 08:43 WIB
Selamatkan 30% Investasi ke Emas -
Selasa, 11/11/2008 13:52 WIB
Jangan Tergiur Bunga Tinggi! -
Sabtu, 08/11/2008 16:45 WIB
Prospek Properti di Tengah Krisis -
Kamis, 30/10/2008 09:02 WIB
Jangan Taruh Investasi dalam Satu Keranjang -
Selasa, 21/10/2008 12:36 WIB
Benarkah Triliunan Dolar Dana Lenyap dari Pasar Saham?
Indeks Berita
Rabu, 09/04/2008 07:37 WIB
Cerdik Kala Pasar Saham Loyo
Alih Istik Wahyuni - detikFinance

Foto: Indro Bagus
Direktur Schroeder Investment Management Indonesia Michael T Tjoajadi ternyata menyarankan, dalam situasi stock market seperti sekarang, lebih baik bermain 'short term' alias jangka pendek.
Dengan short term, investor bisa membeli saham diharga rendah ketika naik sedikit cepat dilepas. Tapi untuk bermain jangka pendek, investor harus terus terusan mengawasi pergerakan saham biar tidak ketinggalan.
"Kalau lagi agak turun, kita beli. Meskipun memang sering turun naik dan kita gak tahu bottom line nya berapa. Dan kalau dia up, bangsa 2.500-2.600, cukup bikin happy," katanya dalam Seminar Indonesia Outlook 2008 di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (8/4/2008) malam.
Sementara untuk obligasi, ia menilai situasi Indonesia sangat dipengaruhi pressure inflation. Misalkan saja untuk pertumbuhan sektor semen yang sebenarnya hanya berputar di Yogyakarta semenjak kota ini terkena gempa.
"Karena Yogya gempa, sehingga butuh pembangunan. Seandainya Yogya dikeluarkan (tidak dihitung), ada Kalimantan, Sulawesi, Irian, Mauluku, dan Sumatera. Tapi itu akan create inflation, karena Maluku dan Irian nggak punya pabrik semen. Lalu mereka mau bawa dari Gresik, tapi banyak gelombang, dan itu menyusahkan mereka, apalagi semen kan tidak boleh sampai kena air," katanya.
Pembangunan di daerah-daerah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai merata dan tidak lagi terpusat di Jawa. Karena kini banyak kredit yang mengalir di daerah ketimbang di Jakarta.
"Kredit sekarang tidak lagi di Jawa sebagai central. Dan setiap pembangunan butuh semen, makanya it create inflation," katanya.
Lalu bagaimana dengan suku bunga? Michael menilai Bank Indonesia akan sulit untuk mengutak-atik suku bungannya. Dengan keadaan seperti sekarang membuat BI sulit menurunkan suku bunga, tapi juga harus ekstra hati-hati kalau mau menaikkan.
"Makanya stock market akan terus gonjang-ganjing," tegasnya.
Sampai kapan market gonjang-ganjing? Ia memprediksi pasar yang bergejolak akan berlangsung hingga Juli-September tahun ini. Hal dipicu reaksi The Fed yang akan terus merespons hasil evaluasi kebijakan yang diambilnya setiap kuartal.
"Sejak subprime mortgage terjadi Agustus lalu, The Fed langsung bereaksi. Hasil action yang diambilnya pada kuartal ketiga ini akan dilihat pada kuartal keempatnya, lalu dia action lagi. Begitu terus dan perkiraan saya sampai kuartal ketiga tahun ini," jelasnya.
Sementara untuk pertumbuhan kredit, ia menyarankan agar pemberi kredit kini tidak lagi terfokus pada wilayah Jawa saja.
Jadi menghadapi pasar saham yang fluktuatif, investor jangan panik.
(lih/ir)
Komentar terkini (13 Komentar)
Informasi Pemasangan Iklan:hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
