Forum Finance
- Memahami riba perbankan... JOXZIN
- setujuhkan anda dengan si... Kaisar-Selatan
- Wahana Beramal Jariyah... JOXZIN
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Selasa, 25/11/2008 12:27 WIB
Menkeu: Saya Pertaruhkan Reputasi dan Harga Diri -
Sabtu, 22/11/2008 14:25 WIB
Ciputra Lebih Kokoh Melawan Krisis -
Jumat, 21/11/2008 16:36 WIB
Anton Apriyantono, pak Menteri Pelanggan Kaki Lima -
Selasa, 18/11/2008 16:25 WIB
Aburizal: Saya Tidak Pernah Berselisih dengan Sri Mulyani -
Kamis, 13/11/2008 13:22 WIB
Teman Satu Sekolah, Dirut Garuda Lupa Wajah Obama -
Kamis, 13/11/2008 11:34 WIB
Mittal Bukan Lagi Orang Terkaya
Indeks Berita
Kamis, 24/04/2008 16:50 WIB
Indra Abidin Kepincut Gandhi di Italia
Suhendra - detikFinance

Indra Abidin
Prinsip Gandhi ini rupanya menginspirasi perusahaan iklan di Italia. Perusahaan itu mengangkatnya sebagai ikon iklan telekomuniaksi di televisi, yang intinya mengedepankan kebersamaan satu keluarga tanpa kekerasan.
"Saya beberapa tahun lalu ke Italia saya lihat iklan telekomunikasi, tetapi justru yang dipakai sebagai iklan adalah Gandhi. Ternyata lewat iklan itu mengedepankan prinsip Gandhi no violence, saya sangat tersentuh," ujar Ketua Asosiasi Periklanan Dunia (International Advertising Association/IAA) Indra Abidin dalam acara konferensi pers di gedung Galaktika, Ragunan, Kamis (24/4/2008).
Indra mengatakan bahwa iklan tersebut mencoba memakai pendekatan yang sederhana tetapi menyentuh semua orang yang melihatnya. Sosok Gandhi yang anti kekerasan diasosiasikan sebagai sikap satu keluarga yang terwakili dari prinsip telekomunikasi.
"Setiap hari kita dihubungkan oleh banyak hal yang menyangkut alat telekomukasi seperti telepon, ini seperti one family," ujar Indra yang baru dilantik sebagai ketua IAA pada 7 April lalu.
Ia juga menilai kondisi periklanan di Indonesia masih belum banyak yang mengedepankan aspek etika terutama bagi perusahaan pembuat iklan, hanya sedikit saja yang mematuhinya.
"Kalau di Indonesia banyak iklan yang masih merendahkan pesaingnya, ini tidak boleh. Tetapi memang setiap negara punya isu masing-masing kalau di Eropa sangat sensitif dengan isu pornografi, Amerika lebih pada hal perlindungan anak seperti hal obesitas atau kegemukan," ungkap Indra.(hen/ir)
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
Informasi Pemasangan Iklan:hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
