Forum Finance
- Tutorial OrangeHRM berbah... titus
- Coba untuk beranikan DIRI... dek_orekoop
- krisis global... madamadaa
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 22/11/2008 17:36 WIB
Laporan dari Peru
SBY Hadiri Puncak APEC dan Gelar Pertemuan dengan PM Australia -
Sabtu, 22/11/2008 16:08 WIB
Laporan dari Peru
Kunci Atasi Krisis Adalah Berkomitmen untuk Rakyat -
Sabtu, 22/11/2008 16:04 WIB
MS Hidayat Calon Tunggal Ketum Kadin 2008-2013 -
Sabtu, 22/11/2008 15:49 WIB
Argentina Nasionalisasi 2 Maskapai Swasta -
Sabtu, 22/11/2008 13:25 WIB
Realisasi Kenaikan UMP di atas 10% Diragukan -
Sabtu, 22/11/2008 12:05 WIB
PLTU Paiton Dapat Berkah Krisis
Indeks Berita
Jumat, 25/04/2008 15:07 WIB
Subsidi BBM Bakar APBNP 2008
Wahyu Daniel - detikFinance

"Ini (subsidi BBM) sudah terlalu berat, tidak mungkin artinya kita bisa collapse," ujar
Wakil Ketua Kadin Bidang Investasi, Perhubungan, Informatika,Telekomunikasi Dan Pariwisata Chris Kanter usai bertemu Menko Perekonomian Boediono di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (25/4/2008).
Kadin tetap pada pendapatnya harga BBM harus disesuaikan dengan keadaan harga minyak dunia saat ini yang sudah melonjak sangat tinggi bahkan sudah menyentuh US$ 120 per barel.
Jika tidak beban subsidi pemerintah akan membengkak dan APBN menjadi tidak ideal karena disesaki oleh anggaran subsidi.
"Minyak sudah US$120 per barel meskipun setelah itu turun sedikit lagi, dan prediksinya akan naik terus berdasarkan keadaan di dunia, menurut kami dari Kadin, karena beban APBN tuh sudah berat sekali tidak tertanggung lagi maka pemerintah harus sesuaikan harga minyak, bagaimanapun harus dan harus dihitung dengan baik karena tergantung kemampuan masyarakat sendiri," tuturnya.
Chris mengatakan saat ini dana anggaran lebih banyak dipakai untuk subsidi, padahal menurutnya akan sangat produktif jika dana APBN banyak dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur atau program-program ekonomi yang langsung mendorong sektor ekonomi.
Berapa besar kenaikan BBM yang harus diterapkan, Chris mengatakan pemerintah harus menghitung itu dengan sangat hati-hati, bahkan kalau bisa jangan sampai lebih dari Rp 1.000.
"Tapi ini bukan salah pemerintah, ini kan fenomena dunia semua tidak bisa predict, predict sampai US$120 per barel ternyata tercapai, ada pendapat bilang ia bisa sampai US$ 140 per barel dalam cakupan waktu dekat, ini bisa saja terjadi karena Nigeria penghasil terbesar bermasalah dengan Iran belum selesai itu selalu jadi indikator tentang harga," ujarnya.
(dnl/ddn)
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
- BPH Migas Gandeng Kejagung Tuntaskan Penyelewengan BBM
- Konsumsi BBM Membengkak 15%
- Kucuran Subsidi BBM Capai Rp 32 Triliun Hingga Maret
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
