Forum Finance
- [Berita] Pertumbuhan Ekon... yudhasatriaw
- pelecehan terhadap umat i... bengak
- Berapa Bea Masuk/Pajak Pa... Wanoja
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 21/08/2008 15:40 WIB
Harga Minyak Goreng Siap Turun -
Kamis, 21/08/2008 15:27 WIB
Sembako Maksimal Hanya Boleh Naik 10% -
Kamis, 21/08/2008 15:20 WIB
Penurunan Harga CPO Pukul Industri -
Kamis, 21/08/2008 15:12 WIB
Pertamina Bidik Rp 5 Triliun dari Pelumas -
Kamis, 21/08/2008 15:06 WIB
Pertamina Bangun Kilang Oli Canggih Se-Asia Pasifik -
Kamis, 21/08/2008 14:02 WIB
PE CPO September Jadi 10%
Indeks Berita
Jumat, 25/04/2008 15:07 WIB
Subsidi BBM Bakar APBNP 2008
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta -
Tingginya harga minyak dunia membuat subsidi BBM dalam anggaran tahun ini makin membengkak saja. Anggaran subsidi membuat APBN menjadi lebih berat.
"Ini (subsidi BBM) sudah terlalu berat, tidak mungkin artinya kita bisa collapse," ujar
Wakil Ketua Kadin Bidang Investasi, Perhubungan, Informatika,Telekomunikasi Dan Pariwisata Chris Kanter usai bertemu Menko Perekonomian Boediono di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (25/4/2008).
Kadin tetap pada pendapatnya harga BBM harus disesuaikan dengan keadaan harga minyak dunia saat ini yang sudah melonjak sangat tinggi bahkan sudah menyentuh US$ 120 per barel.
Jika tidak beban subsidi pemerintah akan membengkak dan APBN menjadi tidak ideal karena disesaki oleh anggaran subsidi.
"Minyak sudah US$120 per barel meskipun setelah itu turun sedikit lagi, dan prediksinya akan naik terus berdasarkan keadaan di dunia, menurut kami dari Kadin, karena beban APBN tuh sudah berat sekali tidak tertanggung lagi maka pemerintah harus sesuaikan harga minyak, bagaimanapun harus dan harus dihitung dengan baik karena tergantung kemampuan masyarakat sendiri," tuturnya.
Chris mengatakan saat ini dana anggaran lebih banyak dipakai untuk subsidi, padahal menurutnya akan sangat produktif jika dana APBN banyak dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur atau program-program ekonomi yang langsung mendorong sektor ekonomi.
Berapa besar kenaikan BBM yang harus diterapkan, Chris mengatakan pemerintah harus menghitung itu dengan sangat hati-hati, bahkan kalau bisa jangan sampai lebih dari Rp 1.000.
"Tapi ini bukan salah pemerintah, ini kan fenomena dunia semua tidak bisa predict, predict sampai US$120 per barel ternyata tercapai, ada pendapat bilang ia bisa sampai US$ 140 per barel dalam cakupan waktu dekat, ini bisa saja terjadi karena Nigeria penghasil terbesar bermasalah dengan Iran belum selesai itu selalu jadi indikator tentang harga," ujarnya.
(dnl/ddn)
Subsidi BBM Bakar APBNP 2008
Wahyu Daniel - detikFinance

"Ini (subsidi BBM) sudah terlalu berat, tidak mungkin artinya kita bisa collapse," ujar
Wakil Ketua Kadin Bidang Investasi, Perhubungan, Informatika,Telekomunikasi Dan Pariwisata Chris Kanter usai bertemu Menko Perekonomian Boediono di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (25/4/2008).
Kadin tetap pada pendapatnya harga BBM harus disesuaikan dengan keadaan harga minyak dunia saat ini yang sudah melonjak sangat tinggi bahkan sudah menyentuh US$ 120 per barel.
Jika tidak beban subsidi pemerintah akan membengkak dan APBN menjadi tidak ideal karena disesaki oleh anggaran subsidi.
"Minyak sudah US$120 per barel meskipun setelah itu turun sedikit lagi, dan prediksinya akan naik terus berdasarkan keadaan di dunia, menurut kami dari Kadin, karena beban APBN tuh sudah berat sekali tidak tertanggung lagi maka pemerintah harus sesuaikan harga minyak, bagaimanapun harus dan harus dihitung dengan baik karena tergantung kemampuan masyarakat sendiri," tuturnya.
Chris mengatakan saat ini dana anggaran lebih banyak dipakai untuk subsidi, padahal menurutnya akan sangat produktif jika dana APBN banyak dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur atau program-program ekonomi yang langsung mendorong sektor ekonomi.
Berapa besar kenaikan BBM yang harus diterapkan, Chris mengatakan pemerintah harus menghitung itu dengan sangat hati-hati, bahkan kalau bisa jangan sampai lebih dari Rp 1.000.
"Tapi ini bukan salah pemerintah, ini kan fenomena dunia semua tidak bisa predict, predict sampai US$120 per barel ternyata tercapai, ada pendapat bilang ia bisa sampai US$ 140 per barel dalam cakupan waktu dekat, ini bisa saja terjadi karena Nigeria penghasil terbesar bermasalah dengan Iran belum selesai itu selalu jadi indikator tentang harga," ujarnya.
(dnl/ddn)
Komentar terkini (1 Komentar)



