Forum Finance
- Rahasia Tersembunyi Metod... warungmp3
- masih muda dah kaya rayaa... lelaki
- [Berita] Pertumbuhan Ekon... yudhasatriaw
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 28/08/2008 16:33 WIB
Potensi Kredit di Banten Masih Besar -
Kamis, 28/08/2008 15:26 WIB
KBI Serang Diresmikan, Pengendalian Inflasi Diutamakan -
Kamis, 28/08/2008 12:59 WIB
ORI Tak Laku Karena Ada Deposito Berbunga Hingga 12% -
Kamis, 28/08/2008 11:13 WIB
Bank Agroniaga Cari Investor Baru -
Kamis, 28/08/2008 10:57 WIB
Krisis Global Hantam Investasi Sektor Keuangan ASEAN -
Kamis, 28/08/2008 07:13 WIB
BI: Suku Bunga Deposito Terlalu Tinggi Kurang Baik
Indeks Berita
Rabu, 30/04/2008 15:45 WIB
Porsi Asing di SUN Tidak Turun
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta -
Kepemilikan investor asing di investasi Surat Utang Negara (SUN) tidak mengalami penurunan kendati pasar SUN saat ini sepi.
Jika dibandingkan dengan posisi sebelum krisis keuangan global terjadi yaitu sejak Mei 2007, porsi kepemilikan asing di SUN saat ini justru lebih tinggi atau mencapai 16,9 persen.
Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto usai acara investor gathering sosialisasi penerbitan sukuk di Graha Sawala, Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (30/4/2008).
Rahmat menjelaskan, pada minggu ketiga April kepemilikan asing di SUN mencapai Rp 84 triliun atau presentasenya 16,9 persen. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan awal 2007 yang hanya sekitar 13 persen.
"Meski ada krisis, kepemilikan asing tidak berkurang bahkan bertambah. Pertama market kita meningkat, yang kedua dari Mei 2007 sampai sekarang ada koreksi atau penurunan. Tapi penurunan itu
kemudian terjadi pembalikan, asing kembali lagi dalam waktu singkat kurang dari 1 bulan," tuturnya.
Rahmat mengatakan hal ini sebenarnya menjadi sesuatu yang sangat positif bagi pemerintah karena tidak terjadi pembalikkan (sudden reversal) secara besar-besaran pada SUN meskipun terjadi ketidakstabilan di pasar keuangan global.
"Asing melihat surat berharga kita masih menarik dan menarik karena prospek ekonomi yang membaik, kinerja pengelolaan fiskal dan moneter semakin baik. Ketiga kalau kita lihat sudden reversal rupiah mesti ada koreksi besar-besaran, dan ternyata rupiah stabil Rp 9.150 sampai dengan Rp 9.200 per US$. Jadi secara relatif dengan melihat rupiah tidak melemah secara signifikan pada suatu titik tertentu pada saat pelepasan asing terjadi itu artinya tidak terjadi sudden reversal," urainya.
Optimistis
Pemerintah juga memgaku masih optimistis pembiayaan defisit anggaran lewat penerbitan SUN masih bisa dilakukan sesuai rencana. Meskipun pasar SUN saat ini masih belum stabil dan terguncang yang terlihat dari sepinya peminat pada lelang SPN (Surat Perbendaharaan Negara) dan Zero Coupon pada Selasa kemarin (29/4/2008).
"Kelesuan pasar obligasi saya kira berlaku di semua negara, kita lihat kan indeks turun naik, karena penyebabnya ada 2 yakni dampak krisis subprime masih terasa sehingga ekses likuiditas begitu ketat dan investor tidak lagi bisa spend uangya untuk investasi termasuk untuk membeli SUN. Kedua kita lihat ekspetasi inflasi meningkat itu karena harga pangan minyak meningkat, kalau ekspetasi inflasi maka kemungkinan bank sentral seluruh dunia akan menaikan suku bunga," tuturnya.
Rahmat mengatakan pemerintah masih memiliki beberapa instrumen SUN lagi yang akan diterbitkan untuk menutupi defisit anggaran di tahun ini.
"Karena beberapa instrumen akan kita terbitkan dan ORI-kan masih ada lagi, sukuk dalam negeri dan luar masih akan ada lagi, penerbitan obligasi negara jangka panjang atau SPN jangka pendek itu kan setiap bulan akan kita lakukan, kita jangan lihat sesaat aja," urainya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan selalu melihat faktor pasar dalam menerbitkan SUN sehingga nantinya dapat diserap dengan baik dan maksimal.
"Suasana market selalu menjadi salah satu faktor yang tidak diduga dan itu menjadi bahan pertimbangan untuk menjaga APBN kita," ujarnya.
(dnl/ir)
Porsi Asing di SUN Tidak Turun
Wahyu Daniel - detikFinance

Jika dibandingkan dengan posisi sebelum krisis keuangan global terjadi yaitu sejak Mei 2007, porsi kepemilikan asing di SUN saat ini justru lebih tinggi atau mencapai 16,9 persen.
Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto usai acara investor gathering sosialisasi penerbitan sukuk di Graha Sawala, Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (30/4/2008).
Rahmat menjelaskan, pada minggu ketiga April kepemilikan asing di SUN mencapai Rp 84 triliun atau presentasenya 16,9 persen. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan awal 2007 yang hanya sekitar 13 persen.
"Meski ada krisis, kepemilikan asing tidak berkurang bahkan bertambah. Pertama market kita meningkat, yang kedua dari Mei 2007 sampai sekarang ada koreksi atau penurunan. Tapi penurunan itu
kemudian terjadi pembalikan, asing kembali lagi dalam waktu singkat kurang dari 1 bulan," tuturnya.
Rahmat mengatakan hal ini sebenarnya menjadi sesuatu yang sangat positif bagi pemerintah karena tidak terjadi pembalikkan (sudden reversal) secara besar-besaran pada SUN meskipun terjadi ketidakstabilan di pasar keuangan global.
"Asing melihat surat berharga kita masih menarik dan menarik karena prospek ekonomi yang membaik, kinerja pengelolaan fiskal dan moneter semakin baik. Ketiga kalau kita lihat sudden reversal rupiah mesti ada koreksi besar-besaran, dan ternyata rupiah stabil Rp 9.150 sampai dengan Rp 9.200 per US$. Jadi secara relatif dengan melihat rupiah tidak melemah secara signifikan pada suatu titik tertentu pada saat pelepasan asing terjadi itu artinya tidak terjadi sudden reversal," urainya.
Optimistis
Pemerintah juga memgaku masih optimistis pembiayaan defisit anggaran lewat penerbitan SUN masih bisa dilakukan sesuai rencana. Meskipun pasar SUN saat ini masih belum stabil dan terguncang yang terlihat dari sepinya peminat pada lelang SPN (Surat Perbendaharaan Negara) dan Zero Coupon pada Selasa kemarin (29/4/2008).
"Kelesuan pasar obligasi saya kira berlaku di semua negara, kita lihat kan indeks turun naik, karena penyebabnya ada 2 yakni dampak krisis subprime masih terasa sehingga ekses likuiditas begitu ketat dan investor tidak lagi bisa spend uangya untuk investasi termasuk untuk membeli SUN. Kedua kita lihat ekspetasi inflasi meningkat itu karena harga pangan minyak meningkat, kalau ekspetasi inflasi maka kemungkinan bank sentral seluruh dunia akan menaikan suku bunga," tuturnya.
Rahmat mengatakan pemerintah masih memiliki beberapa instrumen SUN lagi yang akan diterbitkan untuk menutupi defisit anggaran di tahun ini.
"Karena beberapa instrumen akan kita terbitkan dan ORI-kan masih ada lagi, sukuk dalam negeri dan luar masih akan ada lagi, penerbitan obligasi negara jangka panjang atau SPN jangka pendek itu kan setiap bulan akan kita lakukan, kita jangan lihat sesaat aja," urainya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan selalu melihat faktor pasar dalam menerbitkan SUN sehingga nantinya dapat diserap dengan baik dan maksimal.
"Suasana market selalu menjadi salah satu faktor yang tidak diduga dan itu menjadi bahan pertimbangan untuk menjaga APBN kita," ujarnya.
(dnl/ir)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
