Forum Finance
- [Berita] Pertumbuhan Ekon... yudhasatriaw
- pelecehan terhadap umat i... bengak
- Berapa Bea Masuk/Pajak Pa... Wanoja
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 15/08/2008 18:07 WIB
Mendiknas Nyaris Pingsan Karena Anggaran Pendidikan 20% -
Selasa, 12/08/2008 13:23 WIB
Teori Investasi Nilai Ala Buffett -
Senin, 11/08/2008 14:57 WIB
Mari Pangestu: Ceramah Oke, Nyanyi Nggak Pede -
Jumat, 08/08/2008 09:03 WIB
Bos Pura Group Takut Sombong -
Senin, 04/08/2008 12:37 WIB
Paskah Merasa Populer Tanpa Harus Beriklan -
Senin, 04/08/2008 12:17 WIB
Berjubah Putih, Boediono Tanggalkan Jas
Indeks Berita
Rabu, 30/04/2008 16:43 WIB
Purnomo Kapok Jadi Menteri ESDM
Alih Istik Wahyuni - detikFinance

Jakarta -
Setelah tiga kali menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia, Purnomo Yusgiantoro mengaku kapok jadi menteri. Padahal, kini namanya paling santer di bursa calon Menko Perekonomian.
Jangan-jangan, kapok jadi Menteri ESDM karena melirik kursi di lapangan Banteng?
"Saya tuh nggak pantes lagi jadi menteri ketiga kalinya. Makanya saya ucapkan selamat bekerja saja bagi menteri yang baru nanti," kata dia.
Ia menyatakannya dalam sambutan pembukaan seminar tentang kenaikan harga minyak di kantor Ditjen Migas, Plaza Centris, Jakarta, Rabu (30/4/2008).
Lalu, apa yang akan dilakukannya setelah tidak lagi jadi menteri? "Saya mau jadi pengamat saja. Sepertinya boleh juga," katanya.
Bagaimana rasanya menjadi menteri yang melayani tiga periode presiden? Rupanya Purnomo mempelajari, di pemerintahan manapun, birokrasi dan keputusan politik menjadi hal yang sangat menguras pikiran.
Seperti ketika pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM lebih dari sekali pada pemerintahan Megawati. "Sejak saat itu akhirnya saya menjadi menteri yang tidak populer karena terus menaikkan harga BBM," katanya.
Ia pun mengenang saat-saat harus mengumumkan kenaikan BBM pada waktu itu. "Awalnya saya dibujuk untuk mengungumumkan kenaikan harga BBM pada waktu itu. Katanya ini adalah keputusan tim dan saya akan didampingi tim tersebut. Eh, ketika sudah mau mulai ternyata cuma saya dan Menko. Ya kalau Menko yang perintah, saya kalah. Akhirnya saya yang umumkan, dan di televisi ternyata cuma saya yang kelihatan, Menkonya dipojokan nggak kesorot. Nasib..nasib," kenangnya.
Kalau sudah merasakan kalah diperintah Menko, mungkin Pak Pur kena giliran memerintah jadi Menko.(lih/ir)
Purnomo Kapok Jadi Menteri ESDM
Alih Istik Wahyuni - detikFinance

Jangan-jangan, kapok jadi Menteri ESDM karena melirik kursi di lapangan Banteng?
"Saya tuh nggak pantes lagi jadi menteri ketiga kalinya. Makanya saya ucapkan selamat bekerja saja bagi menteri yang baru nanti," kata dia.
Ia menyatakannya dalam sambutan pembukaan seminar tentang kenaikan harga minyak di kantor Ditjen Migas, Plaza Centris, Jakarta, Rabu (30/4/2008).
Lalu, apa yang akan dilakukannya setelah tidak lagi jadi menteri? "Saya mau jadi pengamat saja. Sepertinya boleh juga," katanya.
Bagaimana rasanya menjadi menteri yang melayani tiga periode presiden? Rupanya Purnomo mempelajari, di pemerintahan manapun, birokrasi dan keputusan politik menjadi hal yang sangat menguras pikiran.
Seperti ketika pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM lebih dari sekali pada pemerintahan Megawati. "Sejak saat itu akhirnya saya menjadi menteri yang tidak populer karena terus menaikkan harga BBM," katanya.
Ia pun mengenang saat-saat harus mengumumkan kenaikan BBM pada waktu itu. "Awalnya saya dibujuk untuk mengungumumkan kenaikan harga BBM pada waktu itu. Katanya ini adalah keputusan tim dan saya akan didampingi tim tersebut. Eh, ketika sudah mau mulai ternyata cuma saya dan Menko. Ya kalau Menko yang perintah, saya kalah. Akhirnya saya yang umumkan, dan di televisi ternyata cuma saya yang kelihatan, Menkonya dipojokan nggak kesorot. Nasib..nasib," kenangnya.
Kalau sudah merasakan kalah diperintah Menko, mungkin Pak Pur kena giliran memerintah jadi Menko.(lih/ir)
Komentar terkini (2 Komentar)



