Forum Finance
- Akankah Harga Minya dibaw... frenks
- <ask> Seminar Purdi... outoflist
- Jangan tunggu Obama menol... avatarvega
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 04/12/2008 21:14 WIB
Menneg BUMN: Tak Ada BUMN Tersangkut Produk Spekulatif -
Kamis, 04/12/2008 19:06 WIB
PGN Bantah Terkait Produk Spekulatif -
Kamis, 04/12/2008 18:01 WIB
Uang Muka KPR Kembali Turun -
Kamis, 04/12/2008 17:53 WIB
Banyak PHK, BTN Perkirakan NPL Meningkat di 2009 -
Kamis, 04/12/2008 17:50 WIB
Bunga KPR Baru Turun Maret 2009 -
Kamis, 04/12/2008 16:47 WIB
BI: Blanket Guarantee Tingkatkan Kepercayaan Perbankan
Indeks Berita
Senin, 05/05/2008 16:38 WIB
BI Rate Harus Tetap 8%
Wahyu Daniel - detikFinance

Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Avilliani ketika ditemui di Kantor Bappenas, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Senin (5/4/2008)
"Menurut saya BI Rate harus dipertahankan karena dampaknya sangat buruk lebih banyak, satu terhadap pasar modal karena orang akan berekspektasi bunga lebih tinggi sehingga SUN akan dilepas. Jadi biarkansaja BI rate 8 persen karena spread dengan The Fed kan sudah 6 persen masih bagus. Tidak perlu lagi kita memakai teori antara inflasi dengan suku bunga," tuturnya.
Selain itu, kata Aviliani, perbankan juga akan mengalami masalah tambahan NPL jika BI Rate dinaikkan karena tingkat inflasi yang tinggi.
"Dimana orang akan melihat suku bunga yang naik adalah beban bagi industri, dampaknya buruk bagi pasar modal maupun perbankan," ujarnya.
Investasi asing juga diyakini tidak akan keluar kalaupun BI Rate tidak dinaikkan. Dengan BI Rate 8%, Indonesia akan dinilai sebagai negara yang memberikan imbal hasil cukup baik.
Malahan, menurut Avi kemungkinan BI rate untuk turun lebih besar mengingat jarak atau selisih dengan suku bunga The Fed masih cukup lebar.
"Tapi menurut saya jangan dulu karena untuk saat ini risikonya juga tinggi kita tidak perlu mengikuti suku bunga berdasarkan inflasi, kita harus melihat negara lain memberikan yield yang tinggi atau tidak. Ternyata yield yang tinggi di kita dengan 8 persen orang masih masukkan dana, jadi ngapain kita naikkan," paparnya.
Jika BI rate diturunkan maka arus aliran dana yang masuk akan jauh lebih tinggi lagi. "Itu yang kita takutkan bubble itu tadi, pemerintah juga kalau ingin buy back SUN juga akan jadi masalah, sekarang kita harus kurangilah dana luar negeri," ucapnya.
(dnl/qom)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- RDG BI Dimajukan ke 6 Mei
- Inflasi Tinggi, BI Rate Harus Lampaui 9%
- BI Muluskan Keinginan Pemerintah Tahan BI Rate
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
