Forum Finance
- [Berita] Pertumbuhan Ekon... yudhasatriaw
- pelecehan terhadap umat i... bengak
- Berapa Bea Masuk/Pajak Pa... Wanoja
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 21/08/2008 13:40 WIB
Bank Boleh Jual Beli Sukuk -
Kamis, 21/08/2008 12:26 WIB
Skandal Rp 500 Juta di DPR
BI: Kalau Kita Tahu, Masak Mau Membiarkan? -
Kamis, 21/08/2008 11:20 WIB
DPR Harus Kurangi Pemilihan Pejabat Publik -
Kamis, 21/08/2008 09:46 WIB
KPR Masih Jadi Favorit untuk Beli Properti -
Kamis, 21/08/2008 07:40 WIB
Updated
47 Asuransi Raih Predikat Sangat Bagus -
Rabu, 20/08/2008 11:27 WIB
Skandal Rp 500 Juta di DPR Bisa Ganjal Pemulihan Nama BI
Indeks Berita
Senin, 05/05/2008 16:38 WIB
BI Rate Harus Tetap 8%
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta -
Untuk mempertahankan kondisi perekonomian khususnya di pasar modal, tingkat suku bunga BI Rate harus tetap dipertahankan di level 8 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Selasa (6/4/2008) besok.
Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Avilliani ketika ditemui di Kantor Bappenas, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Senin (5/4/2008)
"Menurut saya BI Rate harus dipertahankan karena dampaknya sangat buruk lebih banyak, satu terhadap pasar modal karena orang akan berekspektasi bunga lebih tinggi sehingga SUN akan dilepas. Jadi biarkansaja BI rate 8 persen karena spread dengan The Fed kan sudah 6 persen masih bagus. Tidak perlu lagi kita memakai teori antara inflasi dengan suku bunga," tuturnya.
Selain itu, kata Aviliani, perbankan juga akan mengalami masalah tambahan NPL jika BI Rate dinaikkan karena tingkat inflasi yang tinggi.
"Dimana orang akan melihat suku bunga yang naik adalah beban bagi industri, dampaknya buruk bagi pasar modal maupun perbankan," ujarnya.
Investasi asing juga diyakini tidak akan keluar kalaupun BI Rate tidak dinaikkan. Dengan BI Rate 8%, Indonesia akan dinilai sebagai negara yang memberikan imbal hasil cukup baik.
Malahan, menurut Avi kemungkinan BI rate untuk turun lebih besar mengingat jarak atau selisih dengan suku bunga The Fed masih cukup lebar.
"Tapi menurut saya jangan dulu karena untuk saat ini risikonya juga tinggi kita tidak perlu mengikuti suku bunga berdasarkan inflasi, kita harus melihat negara lain memberikan yield yang tinggi atau tidak. Ternyata yield yang tinggi di kita dengan 8 persen orang masih masukkan dana, jadi ngapain kita naikkan," paparnya.
Jika BI rate diturunkan maka arus aliran dana yang masuk akan jauh lebih tinggi lagi. "Itu yang kita takutkan bubble itu tadi, pemerintah juga kalau ingin buy back SUN juga akan jadi masalah, sekarang kita harus kurangilah dana luar negeri," ucapnya.
(dnl/qom)
BI Rate Harus Tetap 8%
Wahyu Daniel - detikFinance

Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Avilliani ketika ditemui di Kantor Bappenas, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Senin (5/4/2008)
"Menurut saya BI Rate harus dipertahankan karena dampaknya sangat buruk lebih banyak, satu terhadap pasar modal karena orang akan berekspektasi bunga lebih tinggi sehingga SUN akan dilepas. Jadi biarkansaja BI rate 8 persen karena spread dengan The Fed kan sudah 6 persen masih bagus. Tidak perlu lagi kita memakai teori antara inflasi dengan suku bunga," tuturnya.
Selain itu, kata Aviliani, perbankan juga akan mengalami masalah tambahan NPL jika BI Rate dinaikkan karena tingkat inflasi yang tinggi.
"Dimana orang akan melihat suku bunga yang naik adalah beban bagi industri, dampaknya buruk bagi pasar modal maupun perbankan," ujarnya.
Investasi asing juga diyakini tidak akan keluar kalaupun BI Rate tidak dinaikkan. Dengan BI Rate 8%, Indonesia akan dinilai sebagai negara yang memberikan imbal hasil cukup baik.
Malahan, menurut Avi kemungkinan BI rate untuk turun lebih besar mengingat jarak atau selisih dengan suku bunga The Fed masih cukup lebar.
"Tapi menurut saya jangan dulu karena untuk saat ini risikonya juga tinggi kita tidak perlu mengikuti suku bunga berdasarkan inflasi, kita harus melihat negara lain memberikan yield yang tinggi atau tidak. Ternyata yield yang tinggi di kita dengan 8 persen orang masih masukkan dana, jadi ngapain kita naikkan," paparnya.
Jika BI rate diturunkan maka arus aliran dana yang masuk akan jauh lebih tinggi lagi. "Itu yang kita takutkan bubble itu tadi, pemerintah juga kalau ingin buy back SUN juga akan jadi masalah, sekarang kita harus kurangilah dana luar negeri," ucapnya.
(dnl/qom)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk



