Berita Lain

Indeks Berita





Senin, 05/05/2008 17:26 WIB
Kenaikan BBM Pahit, Tapi Pasar Finansial Lebih Sehat
Irna Gustia - detikFinance



Spanduk Hemat BBM (lih)
Jakarta - Pelaku pasar sudah mulai berhitung rencana kenaikan BBM yang akan segera diumumkan pemerintah dalam waktu dekat. Kenaikan hingga 30% tidak akan membuat pasar shock meski pahit.

"Kenaikannya ini sudah diantisipasi, lebih cepat lebih bagus tidak usah menunggu 1 Juni," kata pengamat pasar saham Edwin Sinaga ketika dihubungi detikFinance, Senin (5/5/2008).

Edwin menilai kenaikan BBM adalah upaya penyelamatan terhadap kondisi makro ekonomi terutama APBN. Kestabilan makro ekonomi inilah yang diharapkan pelaku pasar.

Karena saat ini biaya subsidi BBM yang tinggi hampir Rp 200 triliun telah membuat defisit APBN membengkak. Meski begitu penyehatan APBN dengan menaikkan harga BBM ada ongkosnya karena akan membuat inflasi dan suku bunga naik.

"Tapi kenaikan inflasi dan BI Rate ini bisa diminimalkan jika capital inflow dimaksimalkan," katanya.

Menurut Edwin kenaikan BBM hingga 30% juga masih bisa ditoleransi. Kalangan industri juga tidak akan begitu repot karena selama ini telah menggunakan BBM dengan harga industri.

"Yang justru harus diperhatikan pemerintah dari kenaikan BBM ini adalah golongan rakyat miskin yang jumlahnya sangat banyak. Tidak perlu lagi memperhatikan pasar atau industri tapi menyelamatkan kehidupan orang miskin yang jumlahnya cukup banyak dan kalau tidak bisa ditangani bisa menimbulkan kerusuhan sosial yang ongkosnya lebih besar dari kenaikan BBM," jelas Edwin.

Dia berharap pemerintah betul-betul memperhatikan kehidupan rakyat miskin baik dari segi pangan, kesehatan maupun pendidikanya yang harus dijamin.

Analis pasar lainnya Rohma Fitri juga menilai kenaikan harga BBM memang sudah waktunya. Fitri melihat, pukulan kenaikan harga BBM nantinya akan dibayar dengan perbaikan ekonomi dan berimbas pada pasar saham.

"Seperti kenaikan BBM tahun 2005, memang rakyat kaget tapi setelah itu pasar justru kebanjiran investor," kata Fitri.

Fitri mengungkapkan dampak kenaikan harga minyak dunia dirasakan hampir seluruh negara. Dia justru khawatir jika harga BBM tidak naik akan memicu penyelundupan yang lebih tinggi.

"Lebih baik dana subsidi Rp 200 triliun itu untuk infrastruktur yang justru akan membuka lapangan kerja," katanya.

Diakui, golongan rakyat dengan penghasilan minim akan sangat terpukul dengan kenaikan BBM ini berbeda dengan pasar finansial dan industri yang sudah lebih siap.

"Kenaikan ini memang pahit buat masyarakat, tapi semoga ini membuat perekonomian Indonesia lebih sehat," harapnya.(ir/qom)
Komentar terkini (1 Komentar)

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518