Berita Lain

Indeks Berita



Selasa, 06/05/2008 09:47 WIB
Updated
Minyak Tembus Juga US$ 120,23
Nurul Qomariyah - detikFinance



Trading Floor Nymex (Ist)
Singapura - Harga minyak mentah dunia akhirnya menembus level psikologis US$ 120 per barel, sebelum akhirnya kini diperdagangkan lagi di level US$ 119 per barel akibat faktor geopolitik, terutama di Nigeria.

Pada perdagangan Selasa (6/5/2008) padi di pasar Singapura, kontrak utama minyak jenis light pengiriman Juni diperdagangkan di level US$ 119,96 per barel, atau hanya turun tipis dari harga penutupan di New York Mercantile Exchange di US$ 119,97 per barel.

Namun pada perdagangan siang, kontrak ini kembali melejit ke rekor tertingginya di US$ 120,23 per barel. Kontrak ini sempat menembus US$ 120,20 per barel pada pertengahan perdagangan Senin (5/5/2008), sebelum akhirnya ditutup merosot 3,65 per barel dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.

Sementara di London, minyak jenis Brent pengiriman Juni juga sempat menembus rekor tertingginya di US$ 118,58 per barel, sebelum akhirnya ditutup melonjak hingga 3,43 per barel ke level US$ 117,99 per barel.

Harga minyak memang terus menggila sejak awal tahun ini. Dipicu oleh merosotnya nilai tukar dolar, para investor semakin semangat memburu komoditas. Dengan pelemahan dolar AS, maka komoditas yang berdenominasi dolar akan terlihat murah. Investor juga untuk sementara memilih meninggalkan pasar finansial ditengah ketidakpastian akibat krisis subprime mortgage.

Kondisi tersebut diperparah oleh kondisi geopolitik seperti pemogokan di Nigeria, Inggris dan serangan Turki atas pemberontak di Irak. Gangguan-gangguan itu secara langsung dikhawatirkan akan mempengaruhi suplai minyak dunia, ditengah permintaan yang semakin meningkat. Jika ditotal, harga minyak telah melonjak hampir dua kali lipat pada tahu ini.

"Lonjakan harga minyak mentah yang sangat keras kepala ini sepertinya menolak untuk berakhir," jelas Phil Flynn, dari Alaron Trading seperti dikutip dari AFP.

Lonjakan harga kembali terjadi pada Senin awal pekan ini akibat gangguan suplai di Nigeria yang merupakan penghasil minyak terbesar di Afrika. Selain itu, memanasnya kembali situasi di Iran yang merupakan produsen terbesar kedua OPEC menambah kekhawatiran investor.

(qom/ir)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :