Berita Lain

Indeks Berita





Jumat, 16/05/2008 16:58 WIB
Inflasi Jangka Menengah 3-4% Masih Bisa Tercapai
Wahyu Daniel - detikFinance



Boediono (Humas Menko Perekonomian)
Jakarta - Inflasi tahun ini diperkirakan berada di lebih 9 persen dengan kenaikan BBM, namun Menko Perekonomian Boediono yang beberapa hari lagi akan dilantik menjadi Gubernur BI optimis sasaran target inflasi jangka menengah sebesar 3-4 persen akan dapat tercapai.

"Dari segi moneternya harus kita siapkan perangkat yang lebih baik lagi kita siapkan perangkat yang lebih besar lagi, sekarang sudah ada inflation targeting, tapi kita harus sesuaikan dengan situasi kita sendiri," katanya saat berbincang dengan wartawan di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (16/5/2008).

Dari sisi fiskal, Boediono mengatakan besar harapan tidak lagi terjadi gejolak, dan untuk menahan laju inflasi kelancaran arus barang juga harus bisa diatasi.

"Arus barang yang harus kembali pada manajemen logistik nasional supaya biaya murah, jadi kita bisa hilangkan high cost economy, ini semua kan yang menambah inflasi kita, demikian juga infrastruktur perhubungan antar daerah," katanya.

Jika beberapa hal di atas bisa diselesaikan, maka target inflasi 3-4 persen akan bisa dicapai. "Saya akan bekerja sebisa saya dengan teman-teman di BI, dari sisi moneternya akan kita siapkan," ujarnya.

Sementara mengenai target sasaran inflasi tahun ini yang diperkirakan meleset dari asumsi 6,5 persen, Boediono mengatakan hal ini disebabkan oleh beratnya tekanan eksternal.

"Nanti kita evaluasi kalau inflation targeting ialah salah 1 elemennya menjelaskan pada masyarakat mengenai targetnya dan cara mencapainya," jelasnya.

Boediono mengatakan kenaikkan energi dan pangan pada saat ini jauh lebih tinggi dari yang dibayangkan.

Sementara mengenai kebijakan suku bunga acuan (BI Rate) dengan kondisi inflasi yang begitu tinggi, Boediono mengatakan inflasi saat ini lebih karena adanya tekanan dari sisi permintaan.

"Supply induce inflation, membuat biaya produksi naik dan harga jual naik, tidak bisa dengan suku bunga yang naik, tapi dengan mengurangi secondary effect bisa kita atasi dari cost push inflation kalau ini tidak bisa dimatikan dengan suku bunga yang tinggi itu," tuturnya.

Dikatakannya kalau suku bunga dipaksakan di level yang tinggi, penahanan dari kelanjutan efek akibat inflasi tidak bisa dilakukan.

"Kita tetap waspada dampak inflasi yang secondary effect, seperti kenaikan BBM pada harga-harga lain, kurs juga bisa jadi alat untik kurangi dampak inflasi," ujarnya.
(dnl/ddn)

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518