Forum Finance
- Akankah Harga Minya dibaw... frenks
- <ask> Seminar Purdi... outoflist
- Jangan tunggu Obama menol... avatarvega
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 05/12/2008 08:16 WIB
Distribusi Gula Rafinasi akan Diterapkan Pola Tertutup -
Jumat, 05/12/2008 07:24 WIB
Petinggi 'Big Three' Siap Dibayar 1 Dolar per Tahun Demi Bailout -
Kamis, 04/12/2008 19:15 WIB
Mendag 'Lempar Handuk' Soal Permendag No 44 Tahun 2008 -
Kamis, 04/12/2008 19:02 WIB
ADB Kucurkan US$ 350 Juta untuk Reformasi Birokrasi -
Kamis, 04/12/2008 17:39 WIB
Pemerintah Yakin DPR Segera Sahkan Perpu Krisis -
Kamis, 04/12/2008 17:20 WIB
Bajaj Perluas Pabrik di Cikarang US$ 60 Juta Medio 2009
Indeks Berita
Sabtu, 17/05/2008 15:08 WIB
IMF Punya Andil atas Kemerosotan Produksi Minyak RI
M. Rizal Maslan - detikFinance

Produksi Blok Cepu (gik)
Dan IMF punya andil besar atas permasalahan tersebut. Menurut ekonom Dradjad H Wibowo, IMF telah menekan Indonesia sehingga keluarlah UU Migas pada tahun 2001 yang mengakibatkan negara hilang kendali dalam memproduksi minyak dan tidak bisa mengaudit produksi minyak yang telah dihasilkan dan dibawa ke luar negeri.
"Akibatnya kita kini kesulitan. Negara lain yang punya minyak, dengan kenaikan harga minyak mentah justru berpesta pora, seperti Malaysia, Rusia dan sejumlah negara di Timur Tengah. Mereka kini justru membuat pusat kota-kota baru," ungkap ekonom INDEF ini.
Anggota DPR dari FPAN ini menyampaikan hal itu dalam Obrolan Sabtu Radio Ramako di Mario's Place, Menteng Huis, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5/2008).
Dradjad juga menilai perekonomian Indonesia terus bangkrut dan tidak bisa bangkit, akibat tidak bisa melepaskan diri dari jerat utang luar negeri. Pemerintah justru bukannya mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, tapi malah diserahkan ke investor asing.
"Ini terjadi karena kita tidak bisa melepaskan diri dari utang luar negeri. Akhirnya, sumber daya yang kita miliki di dalam negeri tidak bisa optimal dan selalu berpikir untuk mencari dan menyerahkan pengelolaannya kepada investor," ujar Dradjad.
Semakin besarnya nilai utang luar negeri ini, menurut Dradjat, Indonesia tidak bisa mengembangkan perekonomian yang mandiri. "Siapa pun presidennya selalu ditakut-takuti pada kreditor baik lembaga maupun negara. Kita selalu terlilit utang, kalau selalu begitu tidak bisa mandiri," tegasnya lagi.
Ironisnya, jelas Dradjat lagi, di era pemerintahan Soeharto, Indonesia tidak pernah memiliki utang obligasi. "Tapi sekarang kita sudah punya utang obligasi sekitar puluhan miliar dolar AS. Belum lagi surat utang negara yang diterbitkan pemerintah yang hingga tahun 2008 mencapai Rp 158 triliun," jelasnya.
Begitu juga di era pemerintahan Soekarno pada tahun 1968 yang hanya memiliki utang luar negeri sebesar US$ 2 miliar saja, tapi bisa dilunasi secara berlebihan.
"Tapi utang luar negeri kita saat ini membengkak hampir 35 kali lipatnya, ini karena kita tergantung kreditor, negara dan lembaga kreditor seperti AS dan IMF serta investor. Kalau investor meminta kita naikan harga BBM, kita nurut saja," imbuhnya.
Pemimpin Kurang Mandiri
Sementara Ketua Umum DPP PKB Ali Masykur Musa mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia yang masih morat-marit ini, menyebabkan sulitnya kemandirian. Ketidak mandirian ini merupakan karakter pemimpinnya yang tidak selalu mengedepankan kepentingan rakyat, tapi asing.
"Ini sudah empat tahun dipimpin oleh pimpinan yang tidak punya karakter kemandirian, tidak mengedepankan kepentingan rakyat," ujar pimpinan PKB dari kubu Gus Dur ini.
Pemerintahan saat ini, menurut Ali Masykur, justru lebih mementingkan pada transaksi internasional. "Akibatnya, masyarakat terus diperas. Ini menunjukan kita masih didikte asing dan tidak mandiri," tegasnya.
Ketika ditanya apakah artinya perlu cari calon presiden alternatif pada Pemilu 2009 nanti. Ali Masykur menjawab, dalam kontek PKB tentunya masih mengandalkan Gus Dur sebagai figur capres.
"Gus Dur itu punya pengalaman dan punya keberanian aga jarak dengan kepentingan asing," jawabnya.
Untuk itu, lanjut Ali Masykur, wajar saja bisa saat ini Indonesia seperti dipersimpangan jalan dan tidak mandiri bila pemimpin nasionalnya tidak mencerminkan nasionalisme dan lemah.
"Jadi pemimpin itu harus tegas, contoh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Ahmadinejad yang berani menentang IMF dan kekuatan kapitalisme barat. Mereka bisa jadi prototipe pemimpin bangsa yang berani. Indonesia jangan takut karena kita sangat banyak sumber dayanya," imbuhnya.(zal/qom)
Baca juga :
- Harga Minyak Rekor Baru, Dekati Level US$ 128
- Spekulan Kerek Harga Minyak Mendekati US$ 126
- Harga Minyak Dekati US$ 125!
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
