Berita Lain

Indeks Berita





Rabu, 25/06/2008 11:45 WIB
Biofuel Bertanggung Jawab Atas Kemiskinan 30 Juta Orang
Nurul Qomariyah - detikFinance



Gula diangkut untuk Biofuel di Brasil (Reuters)
Jakarta - Proyek biofuel dituding bertanggung jawab atas kenaikan harga pangan dunia hingga 30%, sekaligus menjerumuskan 30 juta orang ke dalam kemiskinan.

Permintaan biofuel kini terus digenjot karena negara-negara maju di dunia sedang berjuang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak sekaligus memangkas emisi karbon dioksida.

Namun disisi lain, biofuel sekaligus memicu kelangkaan bijih-bijihan yang merupakan bahan bakunya, sehingga menyebabkan harganya kian melambung setinggi langit.

"Permintaan negara-negara kaya akan biofuel yang terus meningkat untuk bahan bakar transportasinya telah menyebabkan meningkatnya produksi sekaligus menimbulkan inflasi bahan makanan. Cadangan bijih-bijihan sekarang berada di titik terendah," ujar Rob Bailey, penulis laporan tentang Biofuel untuk lembaga bantuan Oxfam seperti dikutip dari Reuters, Rabu (25/6/208).

Oxfam menyerukan negara-negara kaya untuk membongkar subsidi biofuelnya sekaligus mengurangi tarif impor. Negara-negara kaya juga didesak untuk merevisi target biofuelnya, termasuk rencana Uni Eropa untuk menggantikan 10% BBM dengan biofuel hingga tahun 2020.

"Negara-negara kaya membelanjakan US$ 15 miliar tahun lalu untuk mendukung biofuel sementara mereka juga memblokade ethanol dari Brazil yang lebih murah, yang berarti sedikit banyak telah merusak keamanan pasokan pangan dunia," tulis laporan Oxfam tersebut.

Oxfam memperkirakan pada tahun 2020, emisi CO2 akibat pengalihan lahan untuk perkebunan CPO kemungkinan akan mencapai 3,1 miliar ton, mayoritas berasal dari target Uni Eropa. Dan perlu 46 tahun untuk membayar 'utang karbon' dari capaian target penggunaan biofuel pada level tahun 2020 tersebut.

"Biofuel mengambil alih lahan pertanian dan memaksa pengalihan lahan yang penting untuk pengurangan karbon seperti hutan dan tanah basah. Ini akan memicu pelepasan karbon dari tanah dan tumbuh-tumbuhan dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membayarnya," jelas Oxfam dalam laporannya.

(qom/ir)
Komentar terkini (4 Komentar)

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518