Forum Finance
- Tutorial OrangeHRM berbah... titus
- Coba untuk beranikan DIRI... dek_orekoop
- krisis global... madamadaa
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Minggu, 23/11/2008 10:03 WIB
Laporan dari Peru
Pererat Hubungan dengan IPC, RI Genjot Produksi Kentang -
Sabtu, 22/11/2008 17:36 WIB
Laporan dari Peru
SBY Hadiri Puncak APEC dan Gelar Pertemuan dengan PM Australia -
Sabtu, 22/11/2008 17:05 WIB
Laporan dari Peru
SBY Minta Peran Lebih Kalangan Bisnis Atasi Krisis Global -
Sabtu, 22/11/2008 16:08 WIB
Laporan dari Peru
Kunci Atasi Krisis Adalah Berkomitmen untuk Rakyat -
Sabtu, 22/11/2008 16:04 WIB
MS Hidayat Calon Tunggal Ketum Kadin 2008-2013 -
Sabtu, 22/11/2008 15:49 WIB
Argentina Nasionalisasi 2 Maskapai Swasta
Indeks Berita
Kamis, 03/07/2008 18:11 WIB
Harga Minyak Menuju US$ 150
Nurul Qomariyah - detikFinance

Para Pialang di Trading Floor Nymex (AFP)
"Kita akan melihat harga US$ 150 per barel setelah 4 Juli di AS," ujar seorang pialang minyak seperti dikutip dari Reuters, Kamis (3/7/2008).
Pada awal perdagangan di London hari ini, minyak jenis Brent melonjak hingga level tertingginya di US$ 146,34 per barel. Setelah mencapai puncak, harga kini stabil di kisaran US$ 146,18 per barel, atau naik 1,92 dolar.
Sementara minyak jenis Light Sweet sempat melonjak ke US$ 145,43 per barel, sebelum surut ke US$ 145,32 per barel yang berarti naik 1,75 dolar AS.
Sebulan yang lalu, bank investasi Morgan Stanley --- yang juga pialang energi terbesar--- menyatakan harga minyak akan menembus US$ 150 per barel pada 4 Juli, atau setelah Independence Day AS. Hal ini dipicu oleh meningkatnya permintaan energi dari Asia dan turunnya cadangan.
Pergerakan harga minyak yang semakin gila ini membuat semua orang di dunia geleng-geleng sekaligus pusing. Berikut komentar para pemimpin negara produsen minyak yang dilansir dari Reuters.
Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Al-Naimi:
Apakah harga akan menembus US$ 150 per barel? "Kalau saya tahu, saya akan berada di Las Vegas," ketusnya di Madrid.
Menurutnya, lonjakan harga ini terjadi karena terus mengalirnya dana dari pasar finansial, pelemahan dolar AS, faktor geopolitik dan ketakutan bahwa dunia akan kehabisan bahan bakar fosil plus adanya bencana alam.
"Sekarang, ketika Anda mengkombinasikan semuanya dan mencoba untuk menggambarkan apa yang akan dilakukan harga minyak, maka hal ini akan menyulitkan semua orang," ujarnya.
Presiden OPEC Chakib Khelil:
Paris, 26 Juni ketika harga minyak berada di level US$ 135 per barel. "Saya memrediksi harga akan berkisar di US$ 150-170 per barel pada musim panas ini. Dan harga kemungkinan akan mereda pada akhir tahun," ujarnya.
Madrid, 1 Juli ketika harga di sekitar US$ 143 per barel. "Salah satu dari isu yang utama saat ini adalah apakah kita akan melihat devaluasi lebih lanjut dari dolar AS pada Juli," katanya.
"Prospek harga minyak sangat tidak jelas dan sangat bergejolak. Kita tidak tahu apakah harga akan stabil atau turun," tambahnya.
Vice President Chevron, John Watson:
Madrid, 3 Juli ketika harga di kisaran US$ 145 per barel. "Dalam pandangan Chevron, kebanyakan dari kenaikan harga yang telah kita lihat adalah berhubungan dengan faktor fundamental tentang outlook dari suplai fisik dalam jangka panjang," katanya.
Menteri Energi Iran, Gholam Hossein Nozari:
Madrid, 2 Juli saat harga di US$ 144 per barel. "Sebagian dari semua permasalah ini adalah karena dolar. Jika tren ini terus berlanjut, maka kita tidak memiliki pilihan lain kecuali harga yang terus naik," ujarnya.
(qom/ddn)
Komentar terkini (4 Komentar)
Baca juga :
- SBY Minta Produksi Minyak Digenjot, Cost Recovery Ditekan
- Menkeu: Harga Minyak SOS, Jangan Ribut Masalah Lain
- APBN Masih Tahan Gempuran Jika Harga Minyak US$ 150
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
