Forum Finance
- Akankah Harga Minya dibaw... frenks
- <ask> Seminar Purdi... outoflist
- Jangan tunggu Obama menol... avatarvega
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Senin, 17/11/2008 15:54 WIB
IPEI: Pialang Saham Jangan Takut Karena Kasus Erick -
Kamis, 30/10/2008 07:01 WIB
Wawancara CEO Goodyear
Memetik Untung di Tengah Krisis -
Kamis, 16/10/2008 09:02 WIB
Wawancara Warwick Brady
Mandala Airlines Bangkit di Usia Lawas -
Jumat, 26/09/2008 10:03 WIB
Wawancara Erwin Aksa
Geliat Bosowa di Indonesia Timur -
Kamis, 18/09/2008 08:20 WIB
Wawancara CEO Stanchart:
Masih Optimistis untuk Indonesia -
Selasa, 09/09/2008 08:36 WIB
Wawancara GT Soerbakti
Lorena, Piawai di Darat Bersiap ke Udara
Indeks Berita
Jumat, 04/07/2008 09:42 WIB
Wawancara Eddie Widiono (1)
Semua akan Berlabel Hemat Energi
Alih Istik Wahyuni - detikFinance

Eddie Widiono (dnl)
Langkah tersebut merupakan bagian dari konsep hemat energi yang dicanangkan pemerintah. Ya, hemat energi kini menjadi sesuatu yang tak bisa ditawar lagi. Dengan harga minyak yang sudah menjulang setinggi langit, setiap orang harus berhemat habis-habisan.
Apa saja langkah konkret lain yang bisa dilakukan untuk penghematan energi ini? Ketua Tim Penghematan Energi dan Air Eddie Widiono membeberkan langkah-langkah penghematan yang akan dilakukan pemerintah sekaligus apa yang bisa dilakukan setiap orang untuk mulai berhemat energy.
Berikut wawancara detikFinance dengan mantan Dirut PLN itu di ruang kerjanya di Departemen ESDM, Jakarta, Kamis (4/7/2008).
Apa langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menghemat energi?
Konsumsi listrik di kantor-kantor, sekitar 60 persennya digunakan untuk pengaturan udara, AC. Jadi penggunaan AC-lah yang harus dipelototin terus. Yang harus diperhatikan adalah panas yang masuk dari luar. Semakin banyak panas dari luar masuk, makin berat AC bekerja. AC memindahkan panas di ruangan ke udara luar melalui sistemnya. Jadi kalau dari luar panas terus masuk lagi, itu yang menjadikan pemborosan. AC-nya juga jadi cepat rusak. Makanya tirai harus dipasang, sesederhana itu. Isolasi ruangan sangat menentukan.
Lalu pencahayaan. Kalau cuma ngobrol-ngobrol, nggak dipakai buat nulis, 200 lux cukup. Kalau nulis, 300 lux, kalau harus melototi tugas, naik jadi 500. Lux itu artinya seberapa kuat cahayanya. Jadi tergantung efisiensi cahayanya. Dan itu ada aturannya, berapa cahaya yang harus digunakan untuk ukuran ruangan tertentu.
Selain itu apalagi?
Peralatan-peralatan pembantu seperti pompa air dan lift juga harus diperhitungkan. Kalau diambil patokan kantor PLN, antara lift dan komputer lebih banyak komputer pemakaian listriknya. Jadi sebaiknya komputer hanya digunakan kalau mau pakai saja. Begitu juga printer. On Remote control juga makan listrik. Menyalakan komputer itu kan makan listriknya nggak nendang. Jadi kalau tidak perlu, lebih baik dimatikan saja.
Makanya kita harus melakukan pemilihan alat elektronik dengan benar. Melalui program ini, ke depan kita butuh labeling. Labeling itu suatu pengelempokkan atau sertifikasi dari pemerintah. Labeling menunjukkan kalau alat ini tingkat efisiensinya lebih bagus dibanding yang lain. Karena sekarang banyak alat listrik yang harganya murah, tapi boros listrik. Banyak pengguna yang nggak sadar, kalau diakumulasi, perbedaan konsumsi listrik alat yang boros bisa lebih besar dari perbedaan harga belinya.
Apa labeling dilakukan sejak dari pabriknya?
Jadi manufakturnya nanti diuji oleh lembaga yang ditunjuk. Secara kelembagaan nanti yang berwenang adalah Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE). Yang sudah labeling saat ini baru lampu hemat energi. Setelah ini mungkin kulkas, televisi, dan sebagainya. Dari sisi alat nanti di label, supaya masyarakat bisa memilih barang-barang yang hemat energi saja. Meski lebih mahal, tapi hitunglah penghematannya.
Jadi semua alat listrik nantinyan harus di label?
Iya, nanti semuanya akan dilabel.
Butuh waktu berapa lama sampai semua alat listrik terlabel?
Saya rasa nggak lama. Itu kan uji berdasarkan tipenya saja. Jadi jenisnya saja, kalau jenis ini pakai listriknya segini. Lebih hemat dari yang lainnya. Tapi kemudian tinggal bagaimana kontrolnya.
Apa ada penentangan dari industri karena bisa mengurangi kompetitifnya?
Nah, itu memang salah satu tantangan terbesarnya. Lableling bisa mengubah posisi kompetitif. Makanya harus ada sosialisasi dulu. Karena kalau nggak, bisa merugikan konsumen dan produsen. Makanya sekarang baru lampu yang sudah lableling, habis ini kulkas, bahkan juicer juga akan ada labelnya.
Targetnya kapan semua terlabel?
Kalau nggak salah ada 3 atau 4 produk yang akan dilabel tahun ini. Tapi produk apa saja saya belum tahu.(lih/qom)
Komentar terkini (2 Komentar)
Baca juga :
- Wawancara 'Mr Strategy'
Manfaatkan Kejenuhan di China - Wawancara Kepala BPS
Menyisir si Miskin via Data Lama - Wawancara Charlie Elias:
35 Tahun BlueScope di Indonesia
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
