Forum Finance
- [Berita] Pertumbuhan Ekon... yudhasatriaw
- pelecehan terhadap umat i... bengak
- Berapa Bea Masuk/Pajak Pa... Wanoja
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Selasa, 19/08/2008 10:40 WIB
Seputar Investasi ORI 005 -
Rabu, 13/08/2008 11:30 WIB
Hindari Investasi Bodong dengan ORI -
Selasa, 12/08/2008 11:33 WIB
Menjadi Investor Cerdik Ala Warren Buffet -
Rabu, 06/08/2008 14:55 WIB
Deposito Plus, Ada Asuransinya -
Jumat, 01/08/2008 16:42 WIB
Wali Amanat Dilarang Punya Hubungan Kredit dengan Emiten -
Senin, 28/07/2008 15:44 WIB
Penting Mana: Menabung atau Investasi?
Indeks Berita
Selasa, 22/07/2008 12:47 WIB
Pasar Saham Bertumpu di 3 Sektor
Indro Bagus SU - detikFinance

(Foto: Indro-detikFinance)
Jakarta -
Bursa saham di Indonesia dipenuhi emiten dari banyak sektor usaha. Tapi tetap saja ketiga sektor ini menjadi tumpuan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kenapa bisa begitu?Bukan rahasia lagi, kalau investor pasar modal kini lebih banyak mencurahkan perhatian pada emiten di sektor, tambang dan energi, komoditas perkebunan serta perbankan.
Dua yang pertama yakni tambang dan komoditas mulai menjadi idola setelah tren harga minyak dunia yang terus naik. Saham tambang terutama batubara ikut terkerek harganya karena kenaikan harga minyak membuat batubara jadi alternatif bahan bakar.
Begitupula dengan saham komoditas perkebunan menjadi idola seiring kenaikan harga pangan dunia dan tingginya kebutuhan CPO untuk bahan bakar nabati. Sedangkan emiten perbankan merajai lantai bursa karena kapitalisasinya yang besar terutama bank pelat merah.
"Jadi jangan heran, jika terjadi guncangan di tiga sektor ini akan sangat mempengaruhi IHSG," kata analis saham Budi Ruseno di acara diskusi bertajuk 'Masih Optimiskah Pasar Bursa Indonesia' di Mercantile Club, Wisma BCA, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/7/2008).
Budi menilai wajar jika pekan lalu IHSG mencatat level terendah di tahun 2008 akibat aksi jual yang tinggi saham tambang dan komoditas. Penurunan yang terjadi sepanjang 2008 sebesar 21,6% menurut Budi masih dalam batas normal.
Senada dengan itu, pengamat pasar modal lainnya, Poltak Hotradero mengatakan penurunan indeks yang terjadi di Indonesia pekan lalu juga dialami bursa Asia lainnya.
"Sebagai perbandingan bursa Karaci sepanjang 2008 turun 31,5%, Bombay turun 38,5%, Shanghai turun 43,25%, dan yang terburuk adalah Ho Chi Min turun 53-57%," kata Poltak yang menjabat Kepala Riset Recapital Securities.
Namun Poltak mengingatkan, adanya potensi pasar modal di Indonesia yang masih menyediakan ruang luas untuk menguat. Indikasinya terlihat dari kapitalisasi pasar saham Indonesia baru sebesar 38% dari GDP.
"Kalau kita lihat seperti China misalnya 40% dari GDP, Vietnam mencapai 49%, India sudah 90%, Malaysia 160%, Singapura 275%. Jadi kalau dilihat dari sini, Indonesia masih memiliki ruang yang cukup luas untuk pengembangan pasar modalnya," tutur Poltak.
Untuk pengembangannya, otoritas pasar modal harus membuat banyak alternatif produk selain saham. "Jadi nanti tidak hanya fokus ke ekuiti," katanya.(ir/qom)
Pasar Saham Bertumpu di 3 Sektor
Indro Bagus SU - detikFinance
(Foto: Indro-detikFinance)
Dua yang pertama yakni tambang dan komoditas mulai menjadi idola setelah tren harga minyak dunia yang terus naik. Saham tambang terutama batubara ikut terkerek harganya karena kenaikan harga minyak membuat batubara jadi alternatif bahan bakar.
Begitupula dengan saham komoditas perkebunan menjadi idola seiring kenaikan harga pangan dunia dan tingginya kebutuhan CPO untuk bahan bakar nabati. Sedangkan emiten perbankan merajai lantai bursa karena kapitalisasinya yang besar terutama bank pelat merah.
"Jadi jangan heran, jika terjadi guncangan di tiga sektor ini akan sangat mempengaruhi IHSG," kata analis saham Budi Ruseno di acara diskusi bertajuk 'Masih Optimiskah Pasar Bursa Indonesia' di Mercantile Club, Wisma BCA, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/7/2008).
Budi menilai wajar jika pekan lalu IHSG mencatat level terendah di tahun 2008 akibat aksi jual yang tinggi saham tambang dan komoditas. Penurunan yang terjadi sepanjang 2008 sebesar 21,6% menurut Budi masih dalam batas normal.
Senada dengan itu, pengamat pasar modal lainnya, Poltak Hotradero mengatakan penurunan indeks yang terjadi di Indonesia pekan lalu juga dialami bursa Asia lainnya.
"Sebagai perbandingan bursa Karaci sepanjang 2008 turun 31,5%, Bombay turun 38,5%, Shanghai turun 43,25%, dan yang terburuk adalah Ho Chi Min turun 53-57%," kata Poltak yang menjabat Kepala Riset Recapital Securities.
Namun Poltak mengingatkan, adanya potensi pasar modal di Indonesia yang masih menyediakan ruang luas untuk menguat. Indikasinya terlihat dari kapitalisasi pasar saham Indonesia baru sebesar 38% dari GDP.
"Kalau kita lihat seperti China misalnya 40% dari GDP, Vietnam mencapai 49%, India sudah 90%, Malaysia 160%, Singapura 275%. Jadi kalau dilihat dari sini, Indonesia masih memiliki ruang yang cukup luas untuk pengembangan pasar modalnya," tutur Poltak.
Untuk pengembangannya, otoritas pasar modal harus membuat banyak alternatif produk selain saham. "Jadi nanti tidak hanya fokus ke ekuiti," katanya.(ir/qom)
Komentar terkini (2 Komentar)



