Forum Finance
- Harga sembako hari ini... Kurt_Cobain
- Help me Please!! (bagi-ba... yumco
- masih muda dah kaya rayaa... lelaki
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Senin, 08/09/2008 10:44 WIB
5 Kontraktor Minyak Kelas Kakap Dipanggil DPR -
Senin, 08/09/2008 10:16 WIB
Ekspor Tekstil RI ke AS Didominasi Pakaian Jadi -
Senin, 08/09/2008 07:46 WIB
Produksi Mobil Murah Tata Nano Siap Dilanjutkan -
Minggu, 07/09/2008 15:41 WIB
Pusat Grosir Juga Diserbu Warga -
Minggu, 07/09/2008 13:44 WIB
Sepekan Puasa, Omzet Pedagang Pakaian Meningkat 40% -
Minggu, 07/09/2008 12:01 WIB
Warga Mulai Serbu Pusat Perbelanjaan
Indeks Berita
Kamis, 24/07/2008 19:25 WIB
Perundingan WTO di Ambang Kebuntuan Lagi
Nurul Qomariyah - detikFinance

Mari Pangestu di WTO (Foto: Depdag)
Jenewa -
Negara-negara maju dan negara-negara berkembang makin jauh dari kesepakatan dalam perundingan World Trade Organisation (WTO) di Jenewa, Swiss. Masing-masing tak mau berkompromi dan teguh memperjuangkan kepentingannya.
"Dalam beberapa isu, posisi masih tetap saling menjauh," ujar Dirjen WTO Pascal Lamy seperti dikutip dari AFP, Kamis (24/7/2008).
Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu yang mengikuti pertemuan tersebut sebelumnya mengatakan, kelompok negara maju seperti Amerika Serikat (AS) belum bersedia menerima usulan dari negara berkembang (G-33) yang dipimpin oleh Indonesia.
Perundingan kali ini sangatlah alot. Di putaran hari pertama perundingan antara menteri yang disebut sebagai proses "Green Room", setelah 7 jam baru ada sedikit kemajuan. Salah satu angka yang keluar adalah nilai domestic support AS yang ditetapkan tidak boleh lebih dari US$ 15 miliar.
Walaupun dianggap ada kemajuan, namun sebagian besar negara masih merasa penurunan tersebut tidak efektif karena masih di atas permintaan G-20 sebesar US$ 12 miliar, belum mendekati $13 miliar yang merupakan salah satu angka di dalam draft text yang ada sekarang, dan dua kali dari tingkat yang sekarang diberlakukan yaitu sebesar US$ 7 miliar.
Perundingan akhir hari pertama pada 22 Juli 2008 posisi berbagai isu utama pertanian maupun non-pertanian, terlihat masih jauh dari titik kompromi. Bahkan posisi AS yang menganggap Special Products (SPs) dan Special Safeguard Mechanism (SSM) terlalu besar pengecualiannya, menjadi hal yang dapat membuat berhasil atau tidaknya putaran negosiasi bagi mereka.
G-33 serta Indonesia merasa tudingan tersebut tidak adil. Diputuskan pada hari kedua yaitu pada 23 Juli 2008, pertemuan dibatasi kepada Kelompok G-6 (Amerika Serikat, Uni Eropa, Brazil, India, Australia, Jepang) dan RRT karena sebagian besar perbedaan berada di antara negara-negara tersebut.
Posisi per 23 Juli 2008 jam 23.00 waktu Jenewa, belum ada hasil yang muncul walaupun kelompok tersebut telah bertemu untuk lebih dari 10 jam. Rencananya, pada Kamis tanggal 24 Juli 2008 waktu setempat, proses "Green Room" akan dilanjutkan lagi dengan harapan sudah tercapai titik temu.
Komisi Perdagangan Uni Eropa, Mandelson mengakui bahwa perundingan tadi malam merupakan salah satu yang tersulit dan penuh konfrontasi.
Ia menyebut perundingan selama 12 jam antara Uni Eropa, AS, Australia, China, India, Brasil dan Jepang itu sebagai sebuah 'ketegangan'.
Usai pertemuan pada Kamis, pukul 04.00 dini hari waktu setempat, Menteri Perdagangan India Kamal Nath menyatakan adanya perkembangan meski masih ada hal-hal sulit yang harus dituntaskan. Perundingan diharapkan bisa tuntas akhir pekan ini.
Menteri Pertanian Prancis Michel Barnier meminta negara-negara berkembang untuk membuat penawaran baru dan kemungkinan bisa memberi harapan untuk perundingan tersebut.
"Saya tidak melihat ada setitik cahaya.... di horison antara dua kepentingan yang sangat-sangat kontradiktif," ujarnya dalam wawancara dengan televisi Prancis, LCI.
(qom/ddn)
Perundingan WTO di Ambang Kebuntuan Lagi
Nurul Qomariyah - detikFinance

Mari Pangestu di WTO (Foto: Depdag)
"Dalam beberapa isu, posisi masih tetap saling menjauh," ujar Dirjen WTO Pascal Lamy seperti dikutip dari AFP, Kamis (24/7/2008).
Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu yang mengikuti pertemuan tersebut sebelumnya mengatakan, kelompok negara maju seperti Amerika Serikat (AS) belum bersedia menerima usulan dari negara berkembang (G-33) yang dipimpin oleh Indonesia.
Perundingan kali ini sangatlah alot. Di putaran hari pertama perundingan antara menteri yang disebut sebagai proses "Green Room", setelah 7 jam baru ada sedikit kemajuan. Salah satu angka yang keluar adalah nilai domestic support AS yang ditetapkan tidak boleh lebih dari US$ 15 miliar.
Walaupun dianggap ada kemajuan, namun sebagian besar negara masih merasa penurunan tersebut tidak efektif karena masih di atas permintaan G-20 sebesar US$ 12 miliar, belum mendekati $13 miliar yang merupakan salah satu angka di dalam draft text yang ada sekarang, dan dua kali dari tingkat yang sekarang diberlakukan yaitu sebesar US$ 7 miliar.
Perundingan akhir hari pertama pada 22 Juli 2008 posisi berbagai isu utama pertanian maupun non-pertanian, terlihat masih jauh dari titik kompromi. Bahkan posisi AS yang menganggap Special Products (SPs) dan Special Safeguard Mechanism (SSM) terlalu besar pengecualiannya, menjadi hal yang dapat membuat berhasil atau tidaknya putaran negosiasi bagi mereka.
G-33 serta Indonesia merasa tudingan tersebut tidak adil. Diputuskan pada hari kedua yaitu pada 23 Juli 2008, pertemuan dibatasi kepada Kelompok G-6 (Amerika Serikat, Uni Eropa, Brazil, India, Australia, Jepang) dan RRT karena sebagian besar perbedaan berada di antara negara-negara tersebut.
Posisi per 23 Juli 2008 jam 23.00 waktu Jenewa, belum ada hasil yang muncul walaupun kelompok tersebut telah bertemu untuk lebih dari 10 jam. Rencananya, pada Kamis tanggal 24 Juli 2008 waktu setempat, proses "Green Room" akan dilanjutkan lagi dengan harapan sudah tercapai titik temu.
Komisi Perdagangan Uni Eropa, Mandelson mengakui bahwa perundingan tadi malam merupakan salah satu yang tersulit dan penuh konfrontasi.
Ia menyebut perundingan selama 12 jam antara Uni Eropa, AS, Australia, China, India, Brasil dan Jepang itu sebagai sebuah 'ketegangan'.
Usai pertemuan pada Kamis, pukul 04.00 dini hari waktu setempat, Menteri Perdagangan India Kamal Nath menyatakan adanya perkembangan meski masih ada hal-hal sulit yang harus dituntaskan. Perundingan diharapkan bisa tuntas akhir pekan ini.
Menteri Pertanian Prancis Michel Barnier meminta negara-negara berkembang untuk membuat penawaran baru dan kemungkinan bisa memberi harapan untuk perundingan tersebut.
"Saya tidak melihat ada setitik cahaya.... di horison antara dua kepentingan yang sangat-sangat kontradiktif," ujarnya dalam wawancara dengan televisi Prancis, LCI.
(qom/ddn)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
