Forum Finance
- Memahami riba perbankan... JOXZIN
- setujuhkan anda dengan si... Kaisar-Selatan
- Wahana Beramal Jariyah... JOXZIN
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Senin, 01/12/2008 17:41 WIB
Penurunan Ekspor ke AS dan China Paling Anjlok -
Senin, 01/12/2008 16:38 WIB
Belanja Iklan Anjlok Ancam Industri Media Massa -
Senin, 01/12/2008 16:14 WIB
Target 7 Juta Turis 'Visit Indonesia Year 2008' Sulit Tercapai -
Senin, 01/12/2008 15:45 WIB
Harga BBM Shell Semurah Pertamax -
Senin, 01/12/2008 15:18 WIB
Industri Alat Musik Masih Aman dari PHK -
Senin, 01/12/2008 14:55 WIB
Penumpang Kapal Melonjak 39% Selama Oktober
Indeks Berita
Kamis, 21/08/2008 15:12 WIB
Pertamina Bidik Rp 5 Triliun dari Pelumas
Alih Istik Wahyuni - detikFinance

Foto: Ist
Demikian disampaikan Head of Brand and Communication Lubricant Business Unit Pertamina Redesmon dalam Media Workshop di Hotel Salak, Bogor, Rabu (21/8/2008).
"Untuk tahun ini penjualan kita naik. Targetnya sekitar Rp 5 triliun dari tahun lalu yang Rp 4,2 triliun. Untuk periode Januari sampai Juli kami sudah bisa mencapai 110% dari target setengahnya," katanya.
Kenaikan pendapatan ini terutama didorong peningkatan harga pelumas disamping kenaikan volume penjualan. Tahun lalu penjualan pelumas Pertamina mencapai sekitar 400 ribu ton dimana ekspornya sangat kecil.
"Ekspor tahun lalu masih terlalu kecil. Tapi untuk 2008 kami harapkan bisa mencapai 75 ribu ton," tambahnya.
Saat ini Pertamina mengekspor pelumas ke Pakistan dengan merek gabungan dengan SK Energy, yaitu Zipex. Selain itu juga mengekspor dalam bentuk curah ke Australia dan Taiwan.
Sementara dari sisi harga, kenaikan harga jual produk pelumas dipicu kenaikan harga bahan baku (based oil) dan zat aditif yang digunakan sebagai campuran.
Diantara keduanya, zat aditif memberikan pengaruh yang lebih besar karena harganya lebih tinggi. Harga base oil saat ini sekitar US$ 1.200 per matrik ton sementara aditif sekitar US$ 2.000-2.500 per matrik ton.
"Tak mudah mendapat aditif yang mudah karena di dunia ini hanya 5 produsennya. Jadi semua aditif masih 100% impor," katanya.
(lih/qom)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Pertamina Bangun Kilang Oli Canggih Se-Asia Pasifik
- Penjualan Bahan Bakar Alternatif di SPBU Diperbanyak
- Bisnis Aviasi Pertamina Dilirik Chevron dan BP
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
