Forum Finance
- [info]deposito standard c... StanChart
- Apa yang menyebabkan kris... OmniScience
- Kapan upiah menguat????... fuajuar
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- BBM gak perlu naik tp sem... silentwatcher
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Rabu, 03/12/2008 19:03 WIB
Penduduk Tambah Banyak, Properti Masih Tumbuh Hingga 2050 -
Rabu, 03/12/2008 18:24 WIB
PLN Kantongi Pinjaman US$ 262 Juta untuk PLTU Rembang -
Rabu, 03/12/2008 17:44 WIB
PHK Capai 66.603 Orang, DKI Jakarta Catat Angka Tertinggi -
Rabu, 03/12/2008 17:35 WIB
PTBA Serahkan Trans Sriwijaya ke PT KA -
Rabu, 03/12/2008 17:08 WIB
Joint Venture PTBA dan PT KA Terganjal Pajak -
Rabu, 03/12/2008 17:02 WIB
Menkeu: Kurang Konkret Apa Coba?
Indeks Berita
Kamis, 28/08/2008 17:25 WIB
Purnomo: Dulu Analis dan OPEC Perkirakan Harga Minyak US$ 10-20
Anwar Khumaini - detikFinance

Fasilitas di LNG Tangguh (Puspetindo)
Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro usai rapat paripurna kabinet di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/8/2008).
"Kita mesti lihat pada waktu itu. Apakah waktu itu kebayang harga minyak naik sampai 100 dolar? Tidak pernah terbayang kan? Kita sudah tanya analis, tanya OPEC, mereka bilang rata-rata harga minyak 10-20 dolar," urai Purnomo,
Purnomo menjelaskan, harga LNG Tangguh yang ditetapkan ketika itu tidak flat namun menggunakan formulasi tertentu. Dengan harga minyak di kisaran US$ 10-20 per barel, selanjutnya ditetapkan asumsi pada US$ 35 per barel. Menurut Purnomo, perhitungan itu tidak berpotensi rugi.
"Waktu Tangguh, biayanya diputuskan biayanya juga murah. Bayangkan saja British Petroleum berani investasi Rp 55 triliun, kalau itu proyek rugi, mana dia mau?" ketusnya.
Purnomo juga menegaskan, dalam kontrak juga ada klausul penyesuaian. Dan itulah yang akan dilakukan pemerintah saat ini, yakni bernegosiasi untuk mencari harga yang terbaik.
Ia juga menegaskan, tidak akan ada kerugian dari negara dari penalti jika kontrak tersebut direvisi harganya. Padahal pengamat perminyakan Kurtubi sebelumnya mengatakan, Indonesia berpotensi kehilangan US$ 300 juta karena penalti membatalkan kontrak.
"Penalti tidak ada. Perubahan sudah mereka setujui. Mereka setuju pada 3,4 dolar, sekarang kita minta lagi dengan perubahan kedua. Dengan wapres kemarin sudah ada goodwill," jelasnya.
Purnomo juga menegaskan, rendahnya harga bukan berarti negosiasinya salah. Situasi kedepan kadangkala memang tidak bisa diprediksi.
"Misalnya ini ada tanah waktu itu dijual Rp 10 karena tidak laku, sekarang tiba-tiba disebelah tanah akan dibangun Disney Land sehingga harganya melonjak 100X lipat. Apakah yang menjual dulu harus disalahkan? Kan tidak, orang tidak bisa lihat waktu itu apa yang terjadi. Itu adalah perhitungan situasi dan tidak pernah dapat dianalisis," urainya.(qom/ir)
Komentar terkini (36 Komentar)
Baca juga :
- Megawati Tentukan Sendiri Harga LNG Tangguh
- SBY Bentuk Tim Negosiasi Tangguh
- Revisi UU Migas, Bubarkan BP Migas
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
