Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 13/03/2010 16:21 WIB
Naiknya Peringkat Utang RI Turunkan Yield SUN 25-50 Bps -
Sabtu, 13/03/2010 12:46 WIB
Calon DG BI
DPR : Kasus Century Jadi Catatan Khusus Halim Alamsyah -
Sabtu, 13/03/2010 10:19 WIB
Profil Tiga Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia -
Jumat, 12/03/2010 20:58 WIB
Laba Bank Syariah Bukopin Melonjak 110% -
Jumat, 12/03/2010 17:05 WIB
S&P Naikkan Peringkat Utang Luar Negeri RI -
Jumat, 12/03/2010 16:44 WIB
Lelang SBI Sebulan Sekali, Dana Perbankan Beralih ke SUN
Indeks Berita
Kamis, 25/09/2008 07:32 WIB
Dampak Krisis Finansial AS Bisa Semakin Serius
Nurul Qomariyah - detikFinance

Wen Jiabao (foto: China Herald)
Perdana Menteri China Wen Jiabao mengingatkan, krisis di AS bisa memberi dampak yang lebih serius kepada masyarakat internasional. Ia juga mengingatkan perlunya kerjasama untuk mengatasi krisis tersebut.
"Gejolak finansial yang masih berlanjut, sesungguhnya telah memberi dampak pada banyak negara dan dampaknya kemungkinan menjadi lebih serius," kata Wen seperti dikutip dari AFP, Kamis (25/9/2008).
"Untuk mengatasi masalah ini, kita semua harus membuat semua usaha secara bersama," kata Wen dalam pidatonya di depan PBB.
Presiden AS, George Walker Bush yang juga menghadiri telah menelepon Presiden China Hu Jintao untuk menjelaskan tentang masalah krisis finansial termasuk rencana penyelamatan bernilai US$ 700 miliar.
Menurut laporan media China, Presiden Hu mengatakan kepada Bush bahwa China menyambut baik rencana Washington untuk menstabilkan pasar finansial AS dan berharap bisa sukses.
PM Wen menambahkan, China juga siap untuk membantu masyarakat internasional yang kemungkinan terkena dampak dari krisis di AS. Ia menekankan, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk 'permusuhan' dan 'penuh prasangka'.
"China sebagai negara berkembang besar yang bertanggung jawab, siap untuk bekerja dengan komunitas internasional lain untuk memperkuat kerjasama, membagi kesempatan, memenuhi tantangan dan berkontribusi secara harmonis untuk mencapai pertumbuhan dunia yang berkesinambungan," katanya lagi.
China kini tercatat sebagai negara paling besar dan paling cepat pertumbuhan ekonominya. China memiliki cadangan devisa hingga US$ 1,8 triliun dan sebagian besar diinvestasikan dalam surat berharga AS.
Congressional Research Service dalam laporannya di bulan Januari mengungkapkan, China kemungkinan memegang sekitar surat berharga AS senilai US$ 700 miliar per Juni 2006. China menjadi pemegang surat berharga terbesar AS setelah Jepang.
(qom/qom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (2 Komentar)
Baca juga :
- Pasar Finansial Labil, RI Ubah Strategi Jualan Obligasi Global
- Warren Buffet Suntik Goldman Sachs US$ 5 Miliar
- FBI Investigasi Dugaan Kecurangan Lembaga Keuangan AS
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




