Forum Finance
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Trade off kebijakan “kri... growth23
- Inflasi 2010 : diatas tar... growth23
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Rabu, 10/03/2010 16:40 WIB
3 Calon Pengganti Fadjrijah Jalani Fit and Proper Test Awal April -
Rabu, 10/03/2010 15:01 WIB
LPS Tahan Lagi Suku Bunga Penjaminan -
Rabu, 10/03/2010 14:58 WIB
PN Jakpus Tunjuk Majelis Hakim Sidang In Absentia Hesham dan Rafat -
Rabu, 10/03/2010 11:03 WIB
OCBC NISP Bidik Laba Bersih Rp 566,6 Miliar di 2010 -
Rabu, 10/03/2010 07:47 WIB
Sri Mulyani: Atas Nama Reformasi DPR Menyalahkan Saya -
Rabu, 10/03/2010 07:01 WIB
Dalam Sebulan Utang RI Tambah Rp 27,58 Triliun
Indeks Berita
Senin, 29/09/2008 15:06 WIB
Rush Mewabah di AS, Eropa dan Asia
Wahyu Daniel - detikFinance

Foto: Hayid-detikFinance
Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo, dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Senin (29/9/2008).
"Kesiagaan itu hendaknya tercermin dari kemampuan pemerintah dan otoritas moneter mencegah pengaruh gelombang rush di AS, Eropa, China serta Hong Kong itu agar tidak menginspirasi para pemilik dana di dalam negeri menarik dananya dari sistem perbankan nasional," ujarnya.
Kadin khawatir gejolak itu berdampak pada sistem perbankan dan sistem keuangan nasional. Sebab, krisis moneter yang kita alami pada 1998 mencapai puncaknya ketika terjadi serangan mematikan terhadap sistem perbankan nasional.
"Dewan Moneter (waktu itu) menyelamatkan sistem perbankan dengan instrumen Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).Maka, menghadapi situasi sekarang, hal terpenting yang harus dilakukan adalah melindungi sistem perbankan. Biarkan publik yakin bahwa dana mereka di bank aman agar rush bisa dicegah," ujarnya.
Tak kalah pentingnya, kredibilitas pemerintah dan otoritas moneter harus tetap terjaga. Jangan panik. Dalam situasi seperti sekarang, publik biasanya butuh informasi tentang aspek ketahanan ekonomi negara. sebarluaskan informasi itu secara intensif," ujarnya.
Misalnya, data tentang cadangan devisa negara serta kemampaun perbankan melayani penarikan dana masyarakat.
"Sekali lagi, Kadin mendesak pemerintah, DPR dan otoritas moneter untuk menyiapkan keberadaan Protokol Penanggulangan Krisis (PPK), lazim dikenal Crisis Management Protocol (CMP) sektor keuangan. "Peningkatan kewaspadaan nasional saat ini tak boleh diawar-tawar lagi, karena krisis bisa muncul tiba-tiba," ujarnya.
Kadin menyarankan pemerintah dan DPR segera berkonsultasi guna menerbitkan perpu sebagai landasan operasional PPK sektor keuangan.
(dnl/ddn)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (7 Komentar)
Baca juga :
- WaMu Menyusul Lehman Brothers
- Bantah Kesulitan Likuiditas, Fortis Jual Aset US$ 10 Miliar
- Wachovia Ajukan Merger ke Citigroup
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




