Berita Lain

Indeks Berita



Selasa, 07/10/2008 15:40 WIB
Cegah Krisis 1998, Pasar Diminta Jangan Panik
Bagus Kurniawan - detikFinance


Foto: Reuters
Yogyakarta - Masyarakat dan pasar diminta tidak panik menghadapi ancaman dampak krisis ekonomi Amerika Serikat. Tindakan ini sangat penting untuk menghindari terjadinya krisis ekonomi moneter seperti yang pernah terjadi 1998 lalu dan depresi ekonomi global di tahun 1930.

Demikian disampaikan pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Sri Adiningsih kepada wartawan di kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (7/10/2008).

"Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus mengambil kebijakan yang serba cepat dan tepat serta perlunya memberikan keyakinan pada pelaku ekonomi agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat dan pasar," katanya.

Apabila masyarakat panik terhadap isu krisis ekonomi katanya, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak krisis sektor finansial. Krisis itu ditandai adanya instabilitas ekonomi dengan melemahnya nilai tukar rupiah, menurunnya harga produk primer dan pengalihan uang ke luar negeri.

Menurut dia yang perlu dilakukan adalah meminimalkan dampak negatif yang muncul. Potensi pasar yang besar seperti di Indonesia bila terjadi kepanikan akan berdampak lebih besar. "Rupiah akan melemah dengan tajam, akhirnya akan merusak perekonomian nasional," ungkap staff pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) itu.

Dia mengatakan di tengah kondisi kebijakan fiskal dari BI yang terbatas dan kondisi keuangan pemerintah yang juga terbatas, membuat langkah otoritas perekonomian juga semakin terbatas.
Pemerintah saat ini sedang menghadapi kerapuhan dalam menjalankan kebijakan ekonominya karena menggunakan dana cadangan devisa yang berlaku untuk jangka pendek. Apabila terjadi kepanikan, maka akan menimbulkan sumber kerawanan ekonomi yang cukup serius. Perekonomian nasional pun akan berada pada posisi yang sulit.

"Karena itu yang mendesak untuk dilakukan pemerintah adalah melakukan antisipasi berbagai kemungkinan," ujarnya.

Dia menyarankan pemerintah dan BI lebih fokus melakukan stabilitas ekonomi makro dalam menjaga perekonomian nasional. Langkah ini sangat penting sebagai langkah jangka pendek untuk mencegah irasionalitas pasar keuangan serta menghidari pengalihan uang ke luar negeri.

"Saat ini potensi nilai rupiah melemah cukup besar sekali, karena IHSG turun hingga sepuluh persen. Jika ini melemah lagi akan mempengaruhi perekonomian kita, sebab kita tahu orang Indonesia yang berduit pasti akan memindahkan uangnya ke luar negeri," pungkas dia.

(bgs/lih)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!


Komentar terkini (3 Komentar)

Baca juga :


Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).