Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Senin, 15/03/2010 19:46 WIB
Buka Rute Jakarta-Medan, Citilink Ambil Pasar Adam Air -
Senin, 15/03/2010 16:40 WIB
Kembangkan Sektor Pangan dan Energi, RI Gandeng Australia -
Senin, 15/03/2010 16:30 WIB
Harga Pertamax Cs Naik Rp 200-500 Per Liter -
Senin, 15/03/2010 16:30 WIB
Rangkap Jabatan Komisaris BUMN Dijamin Tak Picu Kartel -
Senin, 15/03/2010 16:10 WIB
Hatta: Kalau Mampu Jangan Beli Premium -
Senin, 15/03/2010 15:28 WIB
Pemerintah Tanggung Bea Masuk Impor Barang Telekomunikasi
Indeks Berita
Sabtu, 25/10/2008 09:44 WIB
Putusan OPEC Tak Direspons, Harga Minyak Turun ke US$ 64/barel
Irna Gustia - detikFinance
-dalam.jpg)
(Foto: Reuters)
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/10/2008) harga minyak di NYMEX jenis light untuk pengiriman Desember turun US$ 3,69 menjadi US$ 64,15 per barel.
Begitu pula dengan harga minyak jenis Brent North Sea di London turun US$ 3,42 menjadi US$ 62,05 per barel. Dalam perdagangan intraday di London harga minyak Brent bahkan sempat melemah ke US$ 61 per barel yang merupakan level terendah sejak Mei 2007.
"Meskipun OPEC telah membuat keputusan memangkas produksi harga minyak tetap turun, karena pasar secara psikologis lebih terpengaruh pada muramnya pasar secara keseluruhan," kata Mike Fitzpatrick dari MF Global seperti dilansir dari AFP, Sabtu (25/10/2008).
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada Jumat (24/10/2008) mengumumkan pemangkasan produksi 1,5 juta bph yang berlaku efektif 1 November 2008. Pemangkasan produksi ini diharapkan bisa menstabilkan harga minyak agar tidak terlampau jatuh di tengah resesi dunia saat ini.
Para analis sebelumnya memperkirakan OPEC hanya akan memangkas produksi 1 juta barel per hari karena melemahnya ekonomi dunia yang membuat permintaan minyak mentah ikut menurun.
Analis Dresdner Kleinwort, Peter Fertig mengatakan harga minyak mentah memang cenderung turun sehingga pemangkasan produksi oleh OPEC tidak begitu efektif mengingat permintaan minyak yang terus turun selama masa krisis ini.
Sementara James Williams dari WTRG Economics melihat pemangksan produksi 1,5 juta bph karena terkait dengan turunnya konsumsi minyak di AS sebesar 200 ribu unit, AS merupakan konsumen terbesar minyak dunia.
OPEC yang beranggotakan 12 negara produsen minyak menguasai 40% pasar minyak dunia. Negara OPEC sangat menikmati kenaikan harga minyak tahun ini yang sempat mencapai US$ 147 per barel namun secara dramatis terus mengalami penurunan tajam hingga ke US$ 64 per barel.
Turunnya produksi OPEC juga ditanggapi sinis oleh negara-negara barat. Gedung Putih bahkan menyebut OPEC sebagai anti pasar karena penurunan terjadi saat ini adalah imbas dari resesi global yang membuat permintaan ikut turun.
Sedangkan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyatakan kekecewaannya atas keputusan OPEC tersebut dan menilainya sebagai keputusan yang tidak bertanggung jawab dalam kondisi ekonomi yang sedang krisis. (ir/ir)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
- OPEC Pangkas Produksi 1,5 Juta Bph, Harga Minyak Anjlok Tajam
- Menkeu: Masyarakat Sudah Menikmati Dampak Turunnya Harga Minyak
- OPEC Takkan Biarkan Harga Minyak Meluncur di Bawah US$ 70
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




