Forum Finance
- Indonesia Termasuk Salah ... brightsky
- Pengangguran Baru Jadi Fo... BayuDhirga
- numpang tanya yahh ^_^... Lc09
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 08/01/2009 09:10 WIB
Tidak Ada Dana Talangan untuk Sarijaya -
Kamis, 08/01/2009 08:48 WIB
Bapepam: MKBD Perusahaan Sekuritas Cenderung Menurun -
Kamis, 08/01/2009 08:38 WIB
Sistem Investor Area Dikeluarkan Februari -
Kamis, 08/01/2009 08:30 WIB
Kasus Sarijaya Bisa Hancurkan Kepercayaan Investor Lokal -
Kamis, 08/01/2009 08:15 WIB
Bapepam Nyatakan Seluruh Direksi Sarijaya Bersalah dan Dicekal -
Kamis, 08/01/2009 08:05 WIB
Rupiah Hati-hati Profit Taking
Indeks Berita
Selasa, 18/11/2008 13:22 WIB
3 Proyek PLTU CNKO Kena Dampak Krisis
Indro Bagus SU - detikFinance

(Foto: dok CNKO)

Tiga pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT Central Korporindo International Tbk (CNKO) terhambat. Saat ini perseroan tengah melakukan renegosiasi harga dengan PT Perusahaan Listik Negara (PLN Persero)."Pelaksanaan pembangunan PLTU di 3 lokasi mengalami beberapa kendala. Perseroan melakukan renegosiasi harga dengan PLN," kata Corporate Secretary CNKO, Jafar Chan dalam keterbukaan informasi Bursa Efelk Indonesia (BEI), Selasa (18/11/2008).
Ketiga PLTU tersebut adalah PLTU Pangkalan Bun, Kalimatan Tengah (2X7 megawatt), PLTU Rengat dan PLTU Tembilahan dimana keduanya berada di Riau dan berkapasitas 2X7 megawatt.
Selain itu, perseroan juga sedang meminta penyelesaian kontrak jangka panjang sebagai jaminan kontinuitas pembelian listrik dari PLN. Sayangnya di tidak menjelaskan nilai harga renegosiasi dan kontrak jangka panjang tersebut.
Sebelumnya perseroan juga telah melakukan renegosiasi dan memperoleh kontrak jangka panjang dengan PLN dengan terealisasinya penandatanganan power purchase agreement (PPA) pada Maret 2007.
Saat ini, proyek pembangunan ketiga PLTU tersebut masih mengalami kendala. Kendlaa tersebut antara lain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang cukup signifikan tehadap rupiah, revaluasi yuan (RMB) terhadap dolar AS serta kenaiakan harga batu bara.
"Progress Pangkalau Bun sudah mencapai 87,08%, sedangkan Proyek Rengat dan Tembilahan masing-masing baru mencapai 49,66% dan 47,81%," katanya.
Molornya proyek pembangunan ketiga PLTU tersebut lanjut Djafar, mengakibatkan beban anggaran biaya proyek melonjak dibandingkan perencanaan semula. Hal ini akan mempengaruhi terhadap kajian kelayakan dalam pengembalian investasi.(dro/ir)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
Informasi Pemasangan Iklan:hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
