Berita Lain

Indeks Berita





Selasa, 18/11/2008 15:41 WIB
Impor Baja Program 10.000 MW Tak Bisa Dihindari
Suhendra - detikFinance



(Foto: Irna-detikFinance)
Jakarta - Keinginan produsen baja dalam negeri agar proyek 10.000 MW memprioritaskan baja dalam negeri sulit dipenuhi. Karena China selaku pemberi pinjaman maupun selaku kontraktor pembangunan PLTU akan menggunakan bahan baku dari negaranya.
 
"Saya rasa itu sulit karena itu bagian dari kerjasama dengan China, untuk pembangunan program 10.000 MW," kata Direktur Industri Logam I Putu Suryawirawan Ditjen Industri Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) di sela-sela acara Rakornas Kadin, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Selasa (18/11/2008).
 
Dikatakannya peluang renegoisasi untuk proyek-proyek yang belum dibangun dan belum terlanjur diimpor bisa saja dilakukan. Tetapi itu tergantung kesepakatan antara PLN dan kontraktor.
 
"Seharusnya komposisinya bisa diatur, berapa banyak dari domestik dan berapa dari China," katanya.
 
Mengenai stok baja yang berlimpah saat ini, menurut Putu itu bagian dari risiko bisnis yang ditanggung oleh para produsen. Karena faktor harga dan suplai baja dunia tidak bisa diprediksi pada saat ini.
 
"Itu risiko bisnis, jadi pemerintah tidak bisa berbuat," katanya.
 
Namun ia menggarisbawahi dari kasus ini, para produsen bisa mengatasi masalah tersebut dengan menekan kerugian akibat biaya produksi dan bahan baku mahal. Produsen juga bisa melepas produknya secara bertahap ketika harga dan permintaa baja kembali normal.
 
Sebelumnya para produsen baja domestik mempertanyakan importasi baja untuk proyek 10.000 MW oleh para kontrak-kontraktor PLTU termasuk dari China. Diantaranya untuk proyek PLTU Indramayu dan Muara Karang.(hen/ir)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518