Berita Lain

Indeks Berita





Rabu, 19/11/2008 12:08 WIB
Harga Komoditas Jatuh, Sektor Tambang Siap-siap PHK
Suhendra - detikFinance



Foto: Budi Sugiharto/detikcom
Jakarta - Harga komoditas yang sempat mencapai puncak kini terus jatuh. Gejala efisiensi tenaga kerja yang mengarah pada perumahan karyawan bahkan sampai memutuskan hubungan kerja mulai menjalar ke sektor migas atau industri pertambangan nasional.

Padahal sektor ini diharapkan bisa lebih kuat menghadapi krisis global, setelah sektor manufaktur (non-migas) sudah melakukan langkah-langkah PHK.
 
Hal ini disampaikan oleh Executive Director Asosiasi Pertambangan Indonesia Priyo Pribadi Soemarno usai acara menyambut hari menanam pohon Indonesia di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (19/11/2008).
 
"Saya kira sudah mengarah kesana, tidak bisa dihindari. Kita tidak bisa mengatakan nggak supaya orang tenang harus realistis juga keadaan ini harus ada tindakan nyata pemerintah," katanya saat ditanya mengenai PHK sektor pertambangan.
 
Hancurnya harga mineral bukan hanya mengancam merumahkan karyawan disektor ini. Namun bagi sektor pertambangan yang kinerjanya masih bagus pun akan berdampak pada tingkat penyerapan tenaga kerjanya.
 
"Saya khawatir karena kegiatannya tepengruh dan menurun penyerapan tenaga kerja menurunan juga," ucapnya.
 
Untuk itu, ia mendesak pemerintah untuk bisa membantu menekan biaya operasi dengan cara menurunkan pajak-pajak di sektor partambangan sehingga kegiatan operasional tidak diturunkan dan tetap jalan.
 
"Sekarang ini mereka masih melihat tapi sudah ada ancang-ancang kearah sana (efisiensi karyawan) untuk mengambil langkah menurunkan produksi, dari perusahaan-perusahan sudah melakukan rapat-rapat internal," ungkapnya.
 
Priyo menuturkan harga nikel saat ini jatuh tinggi bahkan batubara juga jatuh meskipun jumlahnya permintaa besar tapi harganya rendah. Misalnya dari beberapa waktu lalu harga batubara US$ 100 per ton dengan kalori 6300 sekarang hanya US$ 70 karena harga minyak bumi jatuh.
 
"Konsolidasi sudah dilakukan menghadapi harga yang jatuh, mungkin belum sampai kesana tapi langkah-langkah persiapan sudah dibicarakan karena perusahaan harus survive," kilahnya.
 
Ia mengaku tidak tahu percis berapa banyak jumlahnya tenaga kerja disektor ini karena banyak perusahaan yang berizin dan tidak berizin. Misalnya saja untuk Freeport memiliki total karyawan sebanyak 5000 termasuk 4% tenaga kerja asing.
 

(hen/qom)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518