Berita Lain

Indeks Berita





Rabu, 19/11/2008 17:07 WIB
G20 Jangan Saling Menutup Pintu Masuk Barang Impor
Wahyu Daniel - detikFinance



(Foto: dok detikFinance)
Jakarta - Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mendorong seluruh negara yang tergabung dalam G20 untuk tidak saling menutup pintu masuk barang impor di tengah kondisi krisis global yang terjadi. Tujuannya agar perdagangan antar negara tetap berjalan dan pertumbuhan ekonomi terjaga.

"Kalau semua saling menutup pintu, yang akan terjadi tidak hanya transaksi antar pelaku, tapi juga antar negara akan saling menutup. Ini akan diupayakan terus menerus karena follow up dari pertemuan G20 kita akan bertemu lagi pada 31 April 2009 untuk melaporkan langkah-langkah itu, untuk membangun confidence," tuturnya.

Sri Mulyani mengatakan pada pertemuan G20 di Washington pekan lalu, para peserta melihat secara nyata keadaan ekonomi di AS sangat tidak bagus dimana permintaan impor terhadap barang-barang luar negeri terutama Asia menurun sangat tajam. Untuk negara berkembang, situasi ini membuat permintaan sangat turun dan terbatas.

"Alternatif destination seperti China yang diupayakan pertumbuhan ekonominya terus tumbuh, itu juga mengeluarkan dana sekitar Rp 500 triliun untuk ekspansi. Jadi semua negara ini sekarang sedang berusaha agar slowing down tidak terlalu besar, kalau slowing down sudah pasti tapi diupayakan agar tidak terlalu besar," paparnya.

Artinya, lanjut Sri Mulyani, neraca pembayaran harus disesuaikan karena ekspor turun impor juga harus turun. "Pemerintah sudah melihat persoalan ini dan kita sudah membuat langkah-langkah, apa yang membuat ekspor akan naik dan apa yang membuat impor tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak menghambat growth," jelasnya.

Dikatakannya impor konsumsi masih bisa dikurangi saat ini, tapi untuk impor barang modal tidak bisa karena bisa mengurangi aktivitas ekonomi.

"Jadi pasar-pasar alternatif dan pasar-pasar yang masih berpotensi untuk tumbuh tinggi, salah satu yang paling penting dalam komunike leaders atau para Menkeu, pada bagian yang terakhir adalah supaya semua negara tidak melakukan tindakan yang cenderung pada protectionism," katanya.

Karena semua negara menganggap neraca pembayaran mengancam, maka semua negara hanya mau melakukan ekspor dan tidak mau melakukan impor.

"Masa semua negara mau ekspor, enggak ada yang beli dong. Kan kalau dalam bahasa Jawanya bundet atau crowded atau macet. Ini yang akan kita lihat artinya seluruh dunia harus bersama-sama menyelesaikan masalah ini bersama," lanjutnya.
(dnl/ir)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518