Forum Finance
- Indonesia Termasuk Salah ... brightsky
- Pengangguran Baru Jadi Fo... BayuDhirga
- numpang tanya yahh ^_^... Lc09
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 08/01/2009 07:36 WIB
Rekening Nasabah Sarijaya akan Dipindahkan ke Sekuritas Lain -
Kamis, 08/01/2009 07:28 WIB
Suspensi Sarijaya Belum akan Dicabut Dalam Waktu Dekat -
Kamis, 08/01/2009 07:17 WIB
Wall Street Anjlok Lagi -
Rabu, 07/01/2009 19:10 WIB
Bapepam-APEI Samakan Persepsi Ketentuan Verifikasi Dana dan Efek -
Rabu, 07/01/2009 19:07 WIB
49 Sekuritas Diberi Kesempatan Lengkapi Data Hingga Kamis -
Rabu, 07/01/2009 17:29 WIB
Review IHSG: Saham Perbankan Malah Jeblok
Indeks Berita
Rabu, 19/11/2008 17:10 WIB
BUMI akan Gadaikan Saham Hasil Buy Back
Indro Bagus SU - detikFinance

Paparan Publik Bakrie Grup (Indro)
"Saham perseroan yang dibeli dengan dana tersebut akan digadaikan terhadap fasilitas tersebut," ujar Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (19/11/2008).
Selama periode tiga bulan sejak 14 November 2008 hingga 13 Februari 2009, BUMI berencana melakukan aksi buy back 3.298.680.000 saham (17%) dengan harga rata-rata Rp 2.500 per saham senilai Rp 8,246 triliun (US$ 824,67 juta).
"Perseroan sedang mengupayakan pinjaman pihak ketiga sebesar US$ 600 juta. Sisanya US$ 224 juta akan diambil dari kas internal perseroan. Sampai saat ini perseroan telah memperoleh pinjaman US$ 75 juta dari Credit Suisse dan sedang dalam proses penyelesaian perjanjian dengan kreditur lainnya," jelas Dileep.
Dileep menjelaskan, pinjaman Credit Suisse tersebut akan digunakan untuk membiayai rencana pembelian kembali saham itu. Sebagaimana diberitakan detikFinance sebelumnya, Direktur BUMI Eddie J Soebari menjelaskan bahwa pinjaman tersebut diperoleh dengan memberi opsi pada kreditur untuk membeli saham yang dijaminkan berdasarkan perjanjian kredit.
Rupanya, BUMI akan menjaminkan saham yang akan dibeli kembali untuk memperoleh pinjaman yang akan digunakan untuk buy back. Akrobat gadai saham seperti itu tampaknya sudah menjadi ciri khas skema pendanaan grup Bakrie, terutama BNBR sebagai induk usaha.
Pada RUPSLB yang digelar 17 Maret 2008, pemegang saham BNBR menyetujui agenda akuisisi internal di 3 anak usahanya BUMI, ENRG dan ELTY senilai Rp 48,44 triliun. Bersama dengan beberapa agenda lainnya, total dana yang dibutuhkan untuk serangkaian aksi tersebut senilai Rp 51,3 triliun.
Sebagian dana aksi tersebut diperoleh melalui penerbitan saham terbatas (rights issue) senilai Rp 40,118 triliun pada April 2008. Kekurangan dana sebesar Rp 10 triliun atau setara dengan US$ 1,086 miliar diperoleh dari Odickson Finance yang akan jatuh tempo April 2009.
Usut punya usut, rupanya pinjaman dari Odickson Finance yang diperoleh pada 21 April 2008 tersebut dilakukan dengan menggadaikan 3.739.040.000 (19,27%) saham BUMI, 4.760.330.000 (30,97%) saham ENRG dan 3.796.540.000 (19,06%) saham ELTY.
Untuk memenuhi kekurangan dana dalam rencana meningkatkan penyertaan saham di 3 anak usahanya, BNBR menggadaikan sejumlah saham-saham di 3 anak usaha yang sama untuk mendapatkan pinjaman. Padahal saham-saham yang digadaikan adalah saham yang akan diakuisisi.
Ilustrasinya begini, seorang investor berniat membeli komoditas X. Lantaran investor tersebut tidak punya dana untuk membeli, investor tersebut menjaminkan komoditas X yang belum dan akan dibeli kepada kreditur pihak ketiga untuk memperoleh dana
Padahal, aksi akrobat seperti itu telah mengakibatkan BNBR terkena masalah utang sebesar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 12 triliun. Masalah muncul ketika harga saham-saham anak usaha yang digadaikan jatuh tajam selama beberapa bulan
terakhir.
Akibatnya, BNBR kesulitan melunasi utang-utangnya. Malah sampai berniat menjual BUMI, anak usahanya yang paling primadona, agar dapat melunasi utang-utangnya. Meski dampak negatif telah menimpa induknya, BUMI kini ikutan melakukan aksi akrobat yang sama.
Sementara opsi pendanaan lainnya yang sedang dikaji BUMI adalah penerbitan Medium Term Notes (MTN). Namun perseroan menyatakan masih dalam pembahasan mendalam, sehingga belum dapat mengungkapkan nilai MTN yang akan diterbitkan, tujuan penggunaan dana maupun jumlah saham BUMI yang akan digadaikan untuk keperluan tersebut.
"Perseroan mempertimbangkan melakukan pembiayaan melalui skema MTN. Saat ini masih dalam pembahasan," jelas Dileep.
(dro/qom)
Komentar terkini (2 Komentar)
Baca juga :
- Saham BUMI Dihargai Rp 860
- Anjlok Berkepanjangan, Bapepam Belum Akan Suspensi BUMI
- BEI Belum Puas Hasil Paparan Publik Grup Bakrie
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
