Forum Finance
- The market is manipulated... investor1
- Chinese Government Wants ... investor1
- Bernanke Threatens US Eco... investor1
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 03/07/2009 16:12 WIB
IHSG Berubah Arah Raih 9 Poin -
Jumat, 03/07/2009 14:20 WIB
Belanja Modal Jasa Marga Baru Terserap di Bawah 50% -
Jumat, 03/07/2009 13:58 WIB
Pengguna Investor Area Baru 150 Orang -
Jumat, 03/07/2009 13:29 WIB
Bapepam Siap Lempar Wacana Demutualisasi BEI ke Publik -
Jumat, 03/07/2009 13:24 WIB
Kuartal II-2009 Rupiah Terapresiasi 9,99% -
Jumat, 03/07/2009 12:40 WIB
FREN Digugat Global Mediacom
Indeks Berita
Rabu, 19/11/2008 18:28 WIB
Imbauan BI untuk Melepas Dolar Kontraproduktif
Wahyu Daniel - detikFinance

Foto: Reuters
Jakarta -
Imbauan Bank Indonesia agar masyarakat segera melepas dolarnya merupakan sinyal yang buruk dan kontraproduktif. Karena siang ini para pemilik modal justru meningkatkan perburuan dolar.
Mereka berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk dari nilai rupiah dan sistem penjaminan yang tidak penuh atau blanket guarantee.
"Tidak seharusnya BI selaku bank sentral melontarkan hal itu. Toh sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa pasar uang lokal maupun mancanegara sedang alami kekeringan likuiditas valas, utamanya dolar," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Bambang Soesatyo, Rabu (19/11/2008).
Bambang mengatakan bisa dipahami maksud imbauan Gubernur BI itu sebagai kerjasama saling menguntungkan. Namun imbauan itu dinilai dikeluarkan pada waktu yang tidak tepat.
"Menguntungkan bagi publik pemilik dolar AS, juga menguntungkan bagi BI karena bisa menambah volume dolar AS di pasar uang. Namun disampaikan pada waktu yang tidak tepat," ujarnya.
Lebih dari itu, diteruskan Bambang, imbauan Gubernur BI Boediono boleh ditafsirkan bahwa pada posisi kurs rupiah-dolar AS sekarang ini yakni Rp 11.000 -12.000 per dolar AS sebagai titik keseimbangannya dalam periode krisis finansial saat ini.
"Artinya, sekarang saatnya bagi publik pemilik dolar AS melakukan profit-taking, karena proses pelemahan rupiah sudah mencapai limitnya. Namun fakta yang ada justru menjelaskan kepada kita pesan yang sampai pada masyarakat bahwa BI mulai panik karena kekeringan valas," pungkasnya. (dnl/qom)
Info Kurs,berita financial dan ekonomi.
Ketik: REG ECO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel, Flexi).
Ketik: REG EKO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat dan Hutch 3).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Imbauan BI untuk Melepas Dolar Kontraproduktif
Wahyu Daniel - detikFinance

Foto: Reuters
Mereka berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk dari nilai rupiah dan sistem penjaminan yang tidak penuh atau blanket guarantee.
"Tidak seharusnya BI selaku bank sentral melontarkan hal itu. Toh sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa pasar uang lokal maupun mancanegara sedang alami kekeringan likuiditas valas, utamanya dolar," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Bambang Soesatyo, Rabu (19/11/2008).
Bambang mengatakan bisa dipahami maksud imbauan Gubernur BI itu sebagai kerjasama saling menguntungkan. Namun imbauan itu dinilai dikeluarkan pada waktu yang tidak tepat.
"Menguntungkan bagi publik pemilik dolar AS, juga menguntungkan bagi BI karena bisa menambah volume dolar AS di pasar uang. Namun disampaikan pada waktu yang tidak tepat," ujarnya.
Lebih dari itu, diteruskan Bambang, imbauan Gubernur BI Boediono boleh ditafsirkan bahwa pada posisi kurs rupiah-dolar AS sekarang ini yakni Rp 11.000 -12.000 per dolar AS sebagai titik keseimbangannya dalam periode krisis finansial saat ini.
"Artinya, sekarang saatnya bagi publik pemilik dolar AS melakukan profit-taking, karena proses pelemahan rupiah sudah mencapai limitnya. Namun fakta yang ada justru menjelaskan kepada kita pesan yang sampai pada masyarakat bahwa BI mulai panik karena kekeringan valas," pungkasnya. (dnl/qom)
Info Kurs,berita financial dan ekonomi.
Ketik: REG ECO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel, Flexi).
Ketik: REG EKO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat dan Hutch 3).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (2 Komentar)
