Berita Lain

Indeks Berita



Jumat, 21/11/2008 07:04 WIB
Ekonomi RI akan Melambat, Hanya Tumbuh 4,84% di 2009
Angga Aliya ZRF - detikFinance


Aktivitas Ekonomi (Foto: dok detikcom)
Bandung - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 diperkirakan akan melambat menjadi sekitar 4,84 persen dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 yang diperkirakan hingga 6,1 persen.     
     
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara di sela-sela acara Pers Gathering di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung, Kamis (20/11/2008) malam.

"Tahun 2009 merupakan tahun berat, dimana kondisi perekonomian global masih terus turun akibat dari perusahaan-perusahaan yang masih berjatuhan dan melakukan rekapitalisasi," ujarnya.

Namun, ia memperkirakan pada semester II-2008 pertumbuhan ekonomi bisa membaik. Ia mengatakan, perkiraan dasar pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 4,84 persen dengan perkiraan optimis mencapai 5,3 persen.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut terjadi akibat kredit perbankan yang hanya tumbuh 15 persen. Sementara ekspor justru tidak tumbuh dan malah negatif 3,06 persen. Sama halnya dengan impor yang diperkirakan negatif 5,22 persen.
    
"Lemahnya nilai tukar rupiah yang masih akan berlangsung sehingga membuat impor melambat," imbuhnya.

Ia mengatakan, ekspor masih akan stagnan karena adanya perlambatan ekonomi dunia, dimana semua negara mengalami penurunan permintaan. "Belum lagi kemungkinan proteksi masing-masing negara," jelasnya.

Menurutnya, pada 2009 diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$ 1.153 juta dolar meningkat dibandingkan 2008 yang diperkirakan US$ 312 juta dolar AS. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 0,2 persen dari PDB yang diperkirakan mencapai Rp 5.310 triliun.  
    
"Untuk itu pemerintah perlu berhati-hati agar defisit di neraca transaksi berjalan tidak tinggi, sebab ini akan menjadi tekanan dalam ekonomi," katanya.

Ia menambahkan, semakin besarnya defisit neraca transaksi berjalan akan mendorong pelemahan rupiah, karena itu pemerintah harus bisa menyediakan dolar guna membiayai defisit.
    
Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap persepsi pasar mengenai sejauh mana otoritas mengambil kebijakan. "Apakah mereka prudent atau enggak. Kalau defisit semakin besar akan membuat persepsi pasar negatif, sebab dinilai kurang berhati-hati," tandasnya. (ang/qom)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!


Komentar terkini (1 Komentar)

Baca juga :


Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).