Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 18/03/2010 18:34 WIB
Nestle Tetap Beli Sebagian CPO dari Indonesia -
Kamis, 18/03/2010 18:24 WIB
Krisis Eropa Jadi Peluang Masuknya Modal Asing ke RI -
Kamis, 18/03/2010 17:15 WIB
Petani Sawit Geram Pemutusan Kontrak CPO Terulang -
Kamis, 18/03/2010 17:01 WIB
Kenaikan Tarif Listrik Bisa Dorong Inflasi -
Kamis, 18/03/2010 16:34 WIB
Pemerintah Isyaratkan Perpanjang Jabatan Emirsyah Satar di Garuda -
Kamis, 18/03/2010 16:10 WIB
Kontrak Diputus Nestle, Sinar Mas Kehilangan Pasar 4.000 Ton CPO
Indeks Berita
Jumat, 21/11/2008 07:04 WIB
Ekonomi RI akan Melambat, Hanya Tumbuh 4,84% di 2009
Angga Aliya ZRF - detikFinance

Aktivitas Ekonomi (Foto: dok detikcom)
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara di sela-sela acara Pers Gathering di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung, Kamis (20/11/2008) malam.
"Tahun 2009 merupakan tahun berat, dimana kondisi perekonomian global masih terus turun akibat dari perusahaan-perusahaan yang masih berjatuhan dan melakukan rekapitalisasi," ujarnya.
Namun, ia memperkirakan pada semester II-2008 pertumbuhan ekonomi bisa membaik. Ia mengatakan, perkiraan dasar pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 4,84 persen dengan perkiraan optimis mencapai 5,3 persen.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut terjadi akibat kredit perbankan yang hanya tumbuh 15 persen. Sementara ekspor justru tidak tumbuh dan malah negatif 3,06 persen. Sama halnya dengan impor yang diperkirakan negatif 5,22 persen.
"Lemahnya nilai tukar rupiah yang masih akan berlangsung sehingga membuat impor melambat," imbuhnya.
Ia mengatakan, ekspor masih akan stagnan karena adanya perlambatan ekonomi dunia, dimana semua negara mengalami penurunan permintaan. "Belum lagi kemungkinan proteksi masing-masing negara," jelasnya.
Menurutnya, pada 2009 diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$ 1.153 juta dolar meningkat dibandingkan 2008 yang diperkirakan US$ 312 juta dolar AS. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 0,2 persen dari PDB yang diperkirakan mencapai Rp 5.310 triliun.
"Untuk itu pemerintah perlu berhati-hati agar defisit di neraca transaksi berjalan tidak tinggi, sebab ini akan menjadi tekanan dalam ekonomi," katanya.
Ia menambahkan, semakin besarnya defisit neraca transaksi berjalan akan mendorong pelemahan rupiah, karena itu pemerintah harus bisa menyediakan dolar guna membiayai defisit.
Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap persepsi pasar mengenai sejauh mana otoritas mengambil kebijakan. "Apakah mereka prudent atau enggak. Kalau defisit semakin besar akan membuat persepsi pasar negatif, sebab dinilai kurang berhati-hati," tandasnya. (ang/qom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
- JK Tak Berharap Obama Pulang Kampung ke Menteng
- Pemilu Tidak Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
- Perlambatan Ekonomi RI Tak Seburuk Negara Lain
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




