Forum Finance
- The market is manipulated... investor1
- Chinese Government Wants ... investor1
- Bernanke Threatens US Eco... investor1
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Sabtu, 04/07/2009 12:45 WIB
Pemerintah Dorong Promosi Ekspor ke Jepang -
Sabtu, 04/07/2009 12:15 WIB
Jelang Puasa Stok Sembako Aman, Harga Stabil -
Sabtu, 04/07/2009 10:45 WIB
Stimulus Pasar Tradisional Bisa Terserap Sebelum Akhir Tahun -
Jumat, 03/07/2009 18:03 WIB
Timor Leste Mau Belajar Stabilkan Harga Sembako dari RI -
Jumat, 03/07/2009 16:40 WIB
Biaya Sewa Tinggi, Asmindo Ancam Boikot Trade Expo 2009 -
Jumat, 03/07/2009 15:36 WIB
Cadangan Minyak RI Hanya Cukup untuk 10 Tahun Lagi
Indeks Berita
Jumat, 21/11/2008 07:04 WIB
Ekonomi RI akan Melambat, Hanya Tumbuh 4,84% di 2009
Angga Aliya ZRF - detikFinance

Aktivitas Ekonomi (Foto: dok detikcom)
Bandung -
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 diperkirakan akan melambat menjadi sekitar 4,84 persen dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 yang diperkirakan hingga 6,1 persen.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara di sela-sela acara Pers Gathering di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung, Kamis (20/11/2008) malam.
"Tahun 2009 merupakan tahun berat, dimana kondisi perekonomian global masih terus turun akibat dari perusahaan-perusahaan yang masih berjatuhan dan melakukan rekapitalisasi," ujarnya.
Namun, ia memperkirakan pada semester II-2008 pertumbuhan ekonomi bisa membaik. Ia mengatakan, perkiraan dasar pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 4,84 persen dengan perkiraan optimis mencapai 5,3 persen.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut terjadi akibat kredit perbankan yang hanya tumbuh 15 persen. Sementara ekspor justru tidak tumbuh dan malah negatif 3,06 persen. Sama halnya dengan impor yang diperkirakan negatif 5,22 persen.
"Lemahnya nilai tukar rupiah yang masih akan berlangsung sehingga membuat impor melambat," imbuhnya.
Ia mengatakan, ekspor masih akan stagnan karena adanya perlambatan ekonomi dunia, dimana semua negara mengalami penurunan permintaan. "Belum lagi kemungkinan proteksi masing-masing negara," jelasnya.
Menurutnya, pada 2009 diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$ 1.153 juta dolar meningkat dibandingkan 2008 yang diperkirakan US$ 312 juta dolar AS. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 0,2 persen dari PDB yang diperkirakan mencapai Rp 5.310 triliun.
"Untuk itu pemerintah perlu berhati-hati agar defisit di neraca transaksi berjalan tidak tinggi, sebab ini akan menjadi tekanan dalam ekonomi," katanya.
Ia menambahkan, semakin besarnya defisit neraca transaksi berjalan akan mendorong pelemahan rupiah, karena itu pemerintah harus bisa menyediakan dolar guna membiayai defisit.
Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap persepsi pasar mengenai sejauh mana otoritas mengambil kebijakan. "Apakah mereka prudent atau enggak. Kalau defisit semakin besar akan membuat persepsi pasar negatif, sebab dinilai kurang berhati-hati," tandasnya. (ang/qom)
Info Kurs,berita financial dan ekonomi.
Ketik: REG ECO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel, Flexi).
Ketik: REG EKO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat dan Hutch 3).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ekonomi RI akan Melambat, Hanya Tumbuh 4,84% di 2009
Angga Aliya ZRF - detikFinance

Aktivitas Ekonomi (Foto: dok detikcom)
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara di sela-sela acara Pers Gathering di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung, Kamis (20/11/2008) malam.
"Tahun 2009 merupakan tahun berat, dimana kondisi perekonomian global masih terus turun akibat dari perusahaan-perusahaan yang masih berjatuhan dan melakukan rekapitalisasi," ujarnya.
Namun, ia memperkirakan pada semester II-2008 pertumbuhan ekonomi bisa membaik. Ia mengatakan, perkiraan dasar pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 4,84 persen dengan perkiraan optimis mencapai 5,3 persen.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut terjadi akibat kredit perbankan yang hanya tumbuh 15 persen. Sementara ekspor justru tidak tumbuh dan malah negatif 3,06 persen. Sama halnya dengan impor yang diperkirakan negatif 5,22 persen.
"Lemahnya nilai tukar rupiah yang masih akan berlangsung sehingga membuat impor melambat," imbuhnya.
Ia mengatakan, ekspor masih akan stagnan karena adanya perlambatan ekonomi dunia, dimana semua negara mengalami penurunan permintaan. "Belum lagi kemungkinan proteksi masing-masing negara," jelasnya.
Menurutnya, pada 2009 diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$ 1.153 juta dolar meningkat dibandingkan 2008 yang diperkirakan US$ 312 juta dolar AS. Defisit tersebut diperkirakan mencapai 0,2 persen dari PDB yang diperkirakan mencapai Rp 5.310 triliun.
"Untuk itu pemerintah perlu berhati-hati agar defisit di neraca transaksi berjalan tidak tinggi, sebab ini akan menjadi tekanan dalam ekonomi," katanya.
Ia menambahkan, semakin besarnya defisit neraca transaksi berjalan akan mendorong pelemahan rupiah, karena itu pemerintah harus bisa menyediakan dolar guna membiayai defisit.
Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap persepsi pasar mengenai sejauh mana otoritas mengambil kebijakan. "Apakah mereka prudent atau enggak. Kalau defisit semakin besar akan membuat persepsi pasar negatif, sebab dinilai kurang berhati-hati," tandasnya. (ang/qom)
Info Kurs,berita financial dan ekonomi.
Ketik: REG ECO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel, Flexi).
Ketik: REG EKO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat dan Hutch 3).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
