Forum Finance
- Indonesia Termasuk Salah ... brightsky
- Pengangguran Baru Jadi Fo... BayuDhirga
- numpang tanya yahh ^_^... Lc09
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Rabu, 07/01/2009 19:10 WIB
Jumlah Koperasi Bertambah 126 Unit di 2008 -
Rabu, 07/01/2009 18:53 WIB
Pasal 29 RUU JPSK Dinilai Mubazir -
Rabu, 07/01/2009 18:16 WIB
Dana Bergulir akan Disalurkan Lewat BPD, Ventura dan Koperasi -
Rabu, 07/01/2009 17:18 WIB
Stimulus Rp 50 Triliun Jangan Ada Embel-embel Memberatkan -
Rabu, 07/01/2009 16:35 WIB
Pemerintah akan Agresif Rangkul Dana SILPA Pemda -
Rabu, 07/01/2009 12:35 WIB
SPBU Dijamin Tidak Lagi Merugi Akibat Perubahan Harga BBM
Indeks Berita
Sabtu, 22/11/2008 02:12 WIB
Laporan dari Peru
Mendag: Ada Komitmen Selesaikan Perundingan Doha Akhir Tahun
Arifin Asydhad - detikFinance
(Foto: Arifin A/detikcom)
Hal ini disampaikan Mari Pangestu kepada wartawan di Hotel Melia Lima, Kota Lima, Peru, Jumat (21/11/2008). "Ada komitmen dari Mendag untuk menindaklanjuti kesepakatan yang ada pada G-20 Leader's Statement, yaitu menyelesaikan perundingan Doha sebelum akhir tahun," kata Mari seperti dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad dari Lima, Peru.
Untuk mempercepat penyelesaian ini, maka masing-masing Menteri Perdagangan akan mengirimkan senior officer untuk bertemu di Genewa. Senior officer Indonesia yang ditunjuk adalah Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan Bapak Gusmardi Bustami.
Perlu diketahui, Putaran Doha atau Deklarasi Doha telah diputuskan pada November 2001 di Doha, Qatar, yang dihadiri 142 negara. Deklarasi tersebut merupakan putaran perundingan baru mengenai perdagangan jasa, produk pertanian, tarif industri, lingkungan, isu-isu implementasi, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), penyelesaian sengketa dan peraturan WTO.
Tujuan dari Putaran Doha adalah menolong penduduk dunia yang miskin melalui liberalisasi perdagangan yang adil, terutama dengan menghapus penghalang dan subsidi di bidang pertanian untuk menuju perdagangan yang bebas. Namun, hingga kini perundingan tersebut masih mengalami kemacetan karena negara-negara berkembang tidak setuju penghapusan subsidi pertanian.
Salah satu hal krusial lainnya adalah menyangkut pemberlakuan produk khusus dan mekanisme perlindungan khusus (special safeguard mechanism) yang diinginkan negara berkembang. Antara negara berkembang dengan negara maju belum klop, karena negara maju lebih mengutamakan pembukaan akses pasar lebih besar dari negara berkembang. Negara berkembang juga menuntut pembukaan akses pasar untuk produk pertanian di negara maju. Namun negara maju enggan mengurangi subsidi, tarif, atau dukungan domestik untuk sektor pertanian.
Berikut wawancara dengan Mari E Pangestu di sela-sela rangkaian KTT APEC di Peru, selengkapnya:
Apa perkembangan terkini mengenai isu KTT APEC?
Selama dua hari terakhir, kita telah melaksanakan pertemuan tingkat menteri di Lima, Peru. Sebagian besar pembahasannya seperti bisa ditebak, kaitannya dengan krisis finansial global, di mana tentunya karena di sini forum menteri perdagangan dan menlu, kita banyak fokus kepada isu perdagangan. Dan ada komitmen dari Mendag untuk menindaklanjuti kesepakatan yang ada pada G-20 Leader's Statement, yaitu menyelesaikan perundingan Doha sebelum akhir tahun. Dan di dalam statement itu bukan hanya kita diinstruksikan untuk menyelesaikan, tapi leaders bersedia untuk membantu kita sampai dengan selesai, intinya akan juga ikut serta di dalam memecahkan berbagai hal yang masih menjadi pending issues. Sehingga pada kesempatan pertemuan ini, di dalam pertemuan atau di luar pertemuan, menteri-menteri perdagangan banyak melakukan pertemuan dengan kesepakatan kita akan mengirim senior officer kita ke Genewa untuk mulai menyiapkan bahan per Sabtu Minggu ini.
Untuk Indonesia, officer kita adalah Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan Bapak Gusmardi Bustami. Malam ini beliau berangkat ke Genewa, walaupun itu tidak direncanakan semula, untuk segera hari Sabtu Minggu ini sampai dengan kira-kira awal Desember, akan ada proses intensif di Genewa untuk menyiapkan draft text untuk mencari fleksibilitas, konvergensi terhadap isu-isu yang belum selesai, termasuk special safe guard mechanism yang merupakan isu utama bagi Indonesia. Dan selama mereka berada di Genewa, para menteri akan terus menerus berhubungan dengan mereka, sehingga kalau ada kemandekan kita bisa segera memberi arahan. Dan kita antar menteri juga melakukan terus menerus hubungan, sehingga kemandekan-kemandekan bisa diatasi, karena ini masalah waktu, urgensi. Itu mungkin komitmen utama yang muncul dari menteri-menteri perdagangan dengan catatan tentu bahwa kita sangat menyadari betapa pentingnya kita menyelesaikan putaran Doha.
Kedua, kita membahas isu trade financing, yang kami sendiri mengangkat karena kami merasa ini adalah salah satu isu penting aksesibilitas dan affordabilitas daripada finance untuk trade, itu sangat penting. Kalau itu tidak bisa, kita jamin bagaimana kita bisa ada trade plus yang akan merupakan bagian dari recovery. Jadi kami usulkan itu untuk ada di dalam agenda APEC, termasuk di APEC Finance Minister.
Ketiga, pentingnya bagi kita untuk terus meningkatkan capacity building, trade facilitation measures, investment facilitation measure, structure reform khususnya untuk membantu UKM dan eksportir, importir kecil dengan berbagai langkah yang pada intinya menurunkan ekonomi biaya tinggi, transaction of doing business dan juga capacity building. Ini beberapa hal yang kami tegaskan mengingat kepentingan Indonesia.
Optimistis tiga hal itu akan tercapai?
Saya rasa bukan optimistis atau pesimistis, tetapi karena finance dan segi kepentingan isu yang kita hadapi semua, yaitu global financial crisis, bahwa ada pertemuan G20 yang mendahului ini, dan sembilan dari anggota APEC itu hadir di G20 sekarang ditambah dari 12 kepala negara yang pada intinya mendukung kesepakatan yang dicapai di G20. Berarti ada beberapa langkah seperti penyelesaian Doha dan beberapa bagian lain yang penting di sektor reformasi sektor finansial yang didukung oleh para leaders, tanpa melupakan hal-hal utama, seperti climate change, food security, human security, disaster management, dan hal-hal lain yang sangat penting dalam rangka kerja sama Asia Pasifik.
Apa sebenarnya hambatan Putaran Doha?
Itu adalah salah satu isu pending yang harus diselesaikan dan kami menegaskan bahwa special safe guard mechanism bukan satu-satunya isu yang pending, ada isu cotton, isu Afrika dan Amerika, tariff simplification, beberapa isu lain yang tetap penting untuk diselesaikan untuk adanya outcome yang balance terutama untuk negara sedang berkembang plus di non agriculture market accept juga ada kepentingan Amerika yang belum klop dengan negara sedang berkembang yang kaitannya dengan zero for zero sectoral tariff reduction. Ini juga adalah hal-hal yang tetap perlu diselesaikan.(asy/asy)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Laporan dari Brazil
SBY Harap Ekspor Dijaga, Infrastruktur Tetap Dibangun - Laporan dari Brazil
Meksiko Ingin Karet dan Padi, Brazil Ingin Ilmu Jarak - Laporan dari Brazil
Presiden SBY Ajak Cari Peluang Baru di Brazil
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
