Berita Lain

Indeks Berita





Sabtu, 22/11/2008 16:08 WIB
Laporan dari Peru
Kunci Atasi Krisis Adalah Berkomitmen untuk Rakyat
Arifin Asydhad - detikFinance



(Foto: Muchlis/Setpres)
Lima - Presiden SBY menyampaikan pidato pada The APEC CEO Summit dengan cukup keras. SBY menegaskan bahwa rakyat tidak boleh dikorbankan demi mengeruk keuntungan. Karena itu, kunci mengatasi krisis saat ini adalah berkomitmen untuk rakyat dengan sungguh-sungguh.

Hal ini disampaikan SBY saat menjadi keynote speaker dalam CEO Summit yang digelar di Auditorium Kementerian Pertahanan, Lima, Peru, Jumat (21/11/2008). SBY membawakan pidato dengan judul 'Economic Growth, Inequality and Poverty: What are the Challenges fot APEC's Developing Economies'.

Presiden SBY yang saat itu mengenakan jas warna hitam dan dasi merah menyampaikan apabila krisis ditangani secara benar akan bisa menjadi titik awal perubahan dan reformasi. "Kami di Indonesia telah lolos dari banyak krisis politik dan telah menangkap banyak peluang. Di setiap krisis yang genting di sejarah kami saat ini, kami telah memiih harapan daripada keputusasaan," kata SBY.

Dan pada saat krisis ekonomi global yang genting seperti ini, menurut SBY, hal seperti itulah yang harus dilakukan, yaitu memilih harapan dan menangkap peluang-peluang, baik secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Krisis keuangan saat ini memperlihatkan banyak hal. "Tetapi di antaranya memperlihatkan bahwa di antara kita telah mengorbankan rakyat demi keuntungan, dan orientasi itu telah menyebabkan kehancuran. Saya percaya bahwa ketika ketika memutuskan dengan pertimbangan yang pendek, maka kita harus membayar konsekwensinya," jelas SBY seperti dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad dari Lima.

Presiden SBY percaya bahwa perusahaan-perusahaan memiliki tanggung jawab moral dan obligasi untuk membantu masyarakat dunia di masa-masa sulit. Pada saat terjadi krisis minyak akhir-akhir ini, kami menyaksikan apa yang dinamakan dengan 'pengalihan kekayaan terbesar dari satu negara ke negara lain, meliputi sekitar US$ 2,3 triiun tiap tahun yang dinikmati oleh negara-negara penghasil minyak dan perusahaan minyak," kata SBY mantap.

Dengan besarnya kekayaan seperti itu, seharusnya dibarengi dengan kewajiban moral. "Saya tidak setuju dengan nasionalisasi, tetapi saya percaya dengan preposisi bahwa yang kuat harus menolong yang lemah, dan nasib baik yang besar ini seharusnya juga dimanfaatkan untuk kebaikan yang lebih besar dalam  semangat perasaan kasihan dan solidaritas kemanusiaan," kata SBY.
(asy/asy)

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518