Berita Lain

Indeks Berita





Minggu, 23/11/2008 05:15 WIB
Laporan dari Peru
Pemimpin APEC Sepakat Dorong Perdagangan Dunia
Arifin Asydhad - detikFinance



Lima - Para pemimpin Asia dan Amerika yang tergabung dalam Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) bersepakat mendukung perdagangan global dan mereformasi lembaga keuangan global untuk menjaga dunia agar tidak jatuh dalam resesi yang lebih dalam. Diharapkan tidak ada rintangan baru terhadap perdagangan global ini.

Kesepakatan para pemimpin APEC ini sebagai hasil pertemuan tahap pertama APEC Economic Leader's Meeting  (AELM) di ruang Bolognesi, Gedung Menteri Pertahanan, Lima, Peru, Sabtu (22/11/2008). Tahap pertama ini membahas mengenai 'WTO Negotiation, Regional Economic Integration, Structural Reform, Global Economic Outlook'.

Sebagaimana dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad di Lima, kesepakatan yang dibuat oleh para pemimpin APEC ini sebagai kelanjutan dari keputusan Pertemuan Pemimpin G20 di Washington, DC pekan lalu. Kesepakatan yang diambil pemimpin APEC ini sama dengan sikap Indonesia.

Beberapa kali Presiden SBY mengatakan bahwa untuk mengatasi krisis global, maka perdagangan global harus terus dilakukan. Selain itu, juga perlu melakukan reformasi terhadap lembaga keuangan, terutama IMF, terkait upaya untuk memunculkan dana darurat bagi negara-negara berkembang yang membutuhkan.

Terkait dengan dorongan perdagangan global ini, para pemimpin sepakat untuk menghindari rintangan-rintangan baru untuk peningkatan investasi dan perdagangan selama 12 bulan. "Situasi sekarang juga memaksa menyoroti pentingnya reformasi di sektor finansial di dalam perekonomian kita," kata para pemimpin APEC.

Sebelumnya, ketika mempertahankan perdagangan bebas, PM Kanada Stephen Harper dan Presiden Mexico Felipe Calderon mencela AS yang menimbulkan krisis dan meminta ada peraturan bank yang lebih baik. "Tetangga paling dekat kami dan partner terbesar kami adalah pusat gempa keuangan dan kemunduran global," kata Harper seperti dikutip Reuters.

Sementara Calderon juga menegaskan bahwa biang krisis ini adalah situasi perekonomian di AS. "Ini bukan disebabkan oleh negara-negara berkembang," kata dia. (asy/asy)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518