Berita Lain

Indeks Berita





Minggu, 23/11/2008 10:03 WIB
Laporan dari Peru
Pererat Hubungan dengan IPC, RI Genjot Produksi Kentang
Arifin Asydhad - detikFinance



Mentan saat meninjau (foto: Arifin A/detikcom)
Lima - Peru dikenal sebagai produsen kentang top dunia. Banyak varietas yang dimiliki Peru. Sebuah lembaga bernama International Potato Center (IPC) dibangun di Kota Lima, Peru untuk dunia perkentangan. Indonesia bertekad mempererat hubungan dengan IPC untuk menggenjot produksi kentang nasional.

Sebagai upaya makin mempererat hubungan dengan IPC, Menteri Pertanian Anton Apriyantono bersama sejumlah menteri dan delegasi Indonesia untuk KTT APEC 2008 menyempatkan berkunjung ke lembaga riset ini, Sabtu (22/11/2008). Rombongan melihat dari dekat lembaga riset ini, termasuk melihat budidaya kentang dengan aeroponik.

Lembaga riset kentang yang dalam bahasa Spanyol bernama  'Centro Internacional De La Papa (CIP)' ini secara struktur berada di bawah PBB, meski banyak negara yang ikut membiayainya. Lembaga ini bertugas mengumpulkan dan mempertahankan genetik kentang di seluruh dunia. Lembaga ini memiliki cabang di Lembang, Bandung sejak tahun 1980-an.

Menurut Anton, Indonesia diuntungkan dengan keberadaan lembaga ini. "Dari 15 varietas kentang yang dibudidayakan di Indonesia, 10 varietas berasal dari lembaga ini," tutur Anton seperti dilaporkan Arifin Asydhad dari Lima.

Saat ini, Indonesia sudah surplus produk kentang. Bahkan, Indonesia merupakan produsen kentang terbesar di Asia Tenggara. "Baru saja kita punya varietas baru yang lebih bagus, yang kita beri nama Margahayu," ujar menteri yang tampak puas melakukan kunjungan ke lembaga riset ini.

Meski sudah surplus, menurut Anton, produksi kentang di Indonesia akan terus digenjot, dengan tujuan utama ekspor. "Sekarang, produksi kita 1 juta ton per tahun, dengan lahan sekitar 60 ribu hektar. Dari jumlah itu, yang diekspor hanya 90 ribu ton per tahun," jelas Anton.

Di masa mendatang, pasar ekspor kentang masih terbuka lebar. Selama ini, Indonesia mengekspor kentang ke Singapura, Malaysia, dan negara-negara Asia lainnya.

Lantas berapa produksi kentang yang ditargetkan pemerintah? Anton tidak bisa menargetkan secara kwantitas. Hanya saja, yang jadi permasalahan utama saat ini adalah bagaimana bisa menanam kentang di lahan yang lebih rendah, sekitar 500-600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Selain itu,  lanjut Anton, soal ketahanan penyakit juga akan diperhatikan pemerintah. "Saat ini, kita belum bisa menanam kentang untuk french fries. Salah satu sebabnya adalah masalah penyakit itu," ungkap doktor lulusan Inggris itu.

Kerja sama dengan IPC itu bukan sebatas kentang. IPP juga meneliti sweet potato alias ubi jalar. "Ubi Yahokimo itu juga hasil kerja sama dengan lembaga ini," kata dia. (asy/asy)
Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518