Forum Finance
- The market is manipulated... investor1
- Chinese Government Wants ... investor1
- Bernanke Threatens US Eco... investor1
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 03/07/2009 16:12 WIB
IHSG Berubah Arah Raih 9 Poin -
Jumat, 03/07/2009 14:20 WIB
Belanja Modal Jasa Marga Baru Terserap di Bawah 50% -
Jumat, 03/07/2009 13:58 WIB
Pengguna Investor Area Baru 150 Orang -
Jumat, 03/07/2009 13:29 WIB
Bapepam Siap Lempar Wacana Demutualisasi BEI ke Publik -
Jumat, 03/07/2009 13:24 WIB
Kuartal II-2009 Rupiah Terapresiasi 9,99% -
Jumat, 03/07/2009 12:40 WIB
FREN Digugat Global Mediacom
Indeks Berita
Minggu, 23/11/2008 12:30 WIB
Penerbitan Surat Utang AS Bahayakan Rupiah
Indro Bagus SU - detikFinance

Jakarta -
Rencana penerbitan surat utang negara Amerika Serikat (AS) dinilai akan menambah ketatnya likuiditas dolar di dunia dan semakin membahayakan nilai tukar rupiah. Pemerintah diminta mengeluarkan langkah nyata untuk mengantisipasinya.
"Jika pemerintah AS jadi menerbitkan surat utang, penguatan dolar akan terus terjadi dan membahayakan semua mata uang dunia, termasuk rupiah," ujar pengamat Farial Anwar saat dihubungi detikFinance, Minggu (23/11/2008).
Menurut Farial, rencana AS menerbitkan surat utang senilai US$ 500 miliar disebabkan pemerintah AS tidak memiliki dana untuk merealisasikan bailout US$ 720-750 miliar. "AS akan defisit besar jika tidak menerbitkan surat utang. Nilai surat utang yang akan diterbitkan belum pasti, tapi yang jelas akan berpengaruh besar pada seluruh mata uang dunia," jelas Farial.
Penerbitan surat utang miliaran dolar diperkirakan bakal menyerap dolar dari seluruh dunia ke AS. Menurut Farial, dalam kondisi seperti sekarang ini, penyerapan dolar akan menyebabkan dolar semakin langka di pasaran.
"Ini akan mendorong penguatan drastis mata uang dolar terhadap seluruh mata uang dunia, terutama negara-negara yang ikut membeli surat utang AS. Rupiah bakal anjlok tajam. Saya belum bisa perkirakan angkanya, yang jelas anjlok cukup tajam," jelas Farial.
Untuk mengantisipasinya, Farial mewakili pengamat ekonomi lainnya menghimbau pemerintah segera menyusun langkah nyata yang antisipatif menghadapi situasi tersebut. Sebab saat ini, dolar menjadi pilihan investasi utama para investor menyusul kejatuhan pasar saham dan komoditas.
"Investasi dolar saat ini menjadi pilihan utama. Sebab investasi di saham atau komoditas kurang menarik karena sedang terpuruk. Oleh sebab itu pemerintah perlu menyusun langkah pengamanan rupiah yang nyata, terutama menghadapi penerbitan surat utang AS. Karena ini masalah krusial. Jika rupiah anjlok semakin tajam, bisa membahayakan seluruh ekonomi negara ini," pungkas Farial. (dro/dro)
Info Kurs,berita financial dan ekonomi.
Ketik: REG ECO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel, Flexi).
Ketik: REG EKO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat dan Hutch 3).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Penerbitan Surat Utang AS Bahayakan Rupiah
Indro Bagus SU - detikFinance

"Jika pemerintah AS jadi menerbitkan surat utang, penguatan dolar akan terus terjadi dan membahayakan semua mata uang dunia, termasuk rupiah," ujar pengamat Farial Anwar saat dihubungi detikFinance, Minggu (23/11/2008).
Menurut Farial, rencana AS menerbitkan surat utang senilai US$ 500 miliar disebabkan pemerintah AS tidak memiliki dana untuk merealisasikan bailout US$ 720-750 miliar. "AS akan defisit besar jika tidak menerbitkan surat utang. Nilai surat utang yang akan diterbitkan belum pasti, tapi yang jelas akan berpengaruh besar pada seluruh mata uang dunia," jelas Farial.
Penerbitan surat utang miliaran dolar diperkirakan bakal menyerap dolar dari seluruh dunia ke AS. Menurut Farial, dalam kondisi seperti sekarang ini, penyerapan dolar akan menyebabkan dolar semakin langka di pasaran.
"Ini akan mendorong penguatan drastis mata uang dolar terhadap seluruh mata uang dunia, terutama negara-negara yang ikut membeli surat utang AS. Rupiah bakal anjlok tajam. Saya belum bisa perkirakan angkanya, yang jelas anjlok cukup tajam," jelas Farial.
Untuk mengantisipasinya, Farial mewakili pengamat ekonomi lainnya menghimbau pemerintah segera menyusun langkah nyata yang antisipatif menghadapi situasi tersebut. Sebab saat ini, dolar menjadi pilihan investasi utama para investor menyusul kejatuhan pasar saham dan komoditas.
"Investasi dolar saat ini menjadi pilihan utama. Sebab investasi di saham atau komoditas kurang menarik karena sedang terpuruk. Oleh sebab itu pemerintah perlu menyusun langkah pengamanan rupiah yang nyata, terutama menghadapi penerbitan surat utang AS. Karena ini masalah krusial. Jika rupiah anjlok semakin tajam, bisa membahayakan seluruh ekonomi negara ini," pungkas Farial. (dro/dro)
Info Kurs,berita financial dan ekonomi.
Ketik: REG ECO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Telkomsel, Flexi).
Ketik: REG EKO kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat dan Hutch 3).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
