Forum Finance
- Indonesia Termasuk Salah ... brightsky
- Pengangguran Baru Jadi Fo... BayuDhirga
- numpang tanya yahh ^_^... Lc09
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Internesta Azzuro Champio
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Kamis, 08/01/2009 14:48 WIB
Penerima Raskin 2009 Susut Jadi 17,09 Juta RTS -
Kamis, 08/01/2009 13:59 WIB
BLT 2009 Hanya untuk Januari dan Februari -
Kamis, 08/01/2009 13:40 WIB
Depkeu dan KPK Bentuk Tim Investigasi Rekening Liar -
Kamis, 08/01/2009 13:25 WIB
Produk Berlogo KAN Lebih Mudah Masuk Arab Saudi -
Kamis, 08/01/2009 12:54 WIB
Depkeu, BI dan KPK akan Percepat Penyelesaian BLBI -
Kamis, 08/01/2009 12:40 WIB
SNI 900 Produk Tidak Layak Lagi
Indeks Berita
Senin, 01/12/2008 16:38 WIB
Belanja Iklan Anjlok Ancam Industri Media Massa
Suhendra - detikFinance

Indra Abidin (Foto: Suhendra/detikcom)
Demikian disampaikan oleh Presiden Asosiasi Periklanan Dunia atau International Advertising Association (IAA) Indra Abidin saat dihubungi detikFinance, Senin (1/12/2008).
"Belanja iklan di tahun depan agak sulit, akhir-akhir ini saja cukup memprihatinkan, saya melihat tidak akan ada peningkatan. Perusahaan yang tidak hati-hati bisa mengambil keputusan demikian (PHK)," ungkapnya.
Belanja iklan nasional pada tahun ini, Abidin memperkirakan hanya mencapai Rp 86 triliun atau hanya naik 6% yang terdiri dari Rp 40 triliun untuk sektor media konvensional dan sisanya media berbasis web atau online.
Mengenai jumlah penurunannya, Indra belum bisa menghitung namun ia memastikan akan terjadi penurunan untuk belanja iklan di sektor perbankan, properti, otomotif, makanan dan minuman. Misalnya saja ia mencontohkan sektor perbankan dan properti yang biasanya berkontribusi 15% terhadap total belanja iklan akan turun hingga 8% saja,
Diakuinya pertumbuhan belanja iklan dengan kondisi global saat ini akan semakin parah, belanja iklan di Indonesia akan terpuruk, meski lebih baik dibandingkan dengan belanja iklan di Jepang, AS dan Eropa atau negara lainnya.
"Jepang sudah mempersiapkan krisis ini untuk belanja iklan kritis selama 5 tahun, Jepang tahun ini minus, AS pun minus. Tahun ini dan tahun depan kita ada kecenderungan turun di media konvenional, beralih ke berbasis web atau online," paparnya.
Dengan kondisi tahun ini dan tahun depan, lanjut Indra, kompetisi persaingan memperoleh porsi iklan akan semakin sulit karena selain menciutnya belanja iklan, kalangan pengiklanpun sudah semakin tersegmen mencari media tertentu saja.
"Media sekarang banyak sekali pilihannya. Sekarang ini karena ada segmen masyarakat, lebih khusus. Memang kemungkinan perusahaan media kuat yang akan bertahan," kilahnya.
Namun meski dihadapkan oleh kondisi yang berat, belanja iklan tahun depan akan sedikit dapat tambahan belanja iklan dari pemilu yang diperkirakan oleh Indra sebesar Rp 2 trilun.
"Kalau mereka (media) diam saja bisa terjadi potensi PHK, untuk itu banyak media sekarang menyesuaikan inovasi, seperti media cetak punya online juga," ucapnya.
(hen/qom)
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Sektor Informal Jangan Diabaikan
- Dunia Usaha Desak Stimulus Ekonomi
- Parlemen Asia Desak Reformasi Sistem Keuangan
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518
