Berita Lain

Indeks Berita





Selasa, 02/12/2008 14:17 WIB
Pendanaan Makin Mahal dan Sulit
Wahyu Daniel - detikFinance



Tingkat Imbal Hasil SUN RI vs AS
Jakarta - Ketatnya likuiditas membuat pendanaan semakin mahal dan sulit. Salah satunya adalah obligasi negara, yang tingkat imbal hasilnya terus membubung, sementara harganya terus terkoreksi.

Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan hingga 28 Oktober 2008, kurva obligasi negara untuk valas naik 500 bps dan untuk rupiah naik 300 bps.

"Krisis keuangan global yang terjadi terasa dampaknya pada kondisi pasar obligasi, karena pasar obligasi internasional sangat volatile akibat arus modal dunia yang membingunkan. Ini menyebabkan hampir semua bond kita terkoreksi 30%, bahkan ada yang sampai 40%," tuturnya dalam rapat dengan Komisi XI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2008).

Sri Mulyani mengatakan dengan kondisi seperti ini pembiayaan melalui global bond menjadi semakin mahal dan financing pemerintah (APBN) maupun swasta menjadi mahal dan sulit.

Dalam paparannya tersebut, terungkap pada 28 November 2008 yield obligasi negara dengan tenor 5 tahun mencapai 15,287%, tenor 10 tahun mencapai 15,583%, untuk tenor 30 tahun mencapai 16,135% dan untuk obligasi internasional INDO-10 mencapai 12,427%.

Selain itu dalam kesempatan tersebut Sri Mulyani juga mengatakan krisis global yang terjadi mulai terasa dampaknya di Indonesia pada September-November 2008 dimana harga saham (IHSG) terkoreksi tajam.

"Periode Januari-November 2008 harga saham terdepresiasi atau terkoreksi 55,53%. Sementara untuk rupiah terdepresiasi 35,6%, dari di bawah Rp 9.500/US$ sekarang di kisaran Rp 12.000 ke atas," paparnya.

(dnl/qom)
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Informasi Pemasangan Iklan:
hubungi Ajeng
Email : iklan@detikfinance.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.518