Berita Lain

Indeks Berita



Selasa, 06/01/2009 16:12 WIB
Pemerintah Siapkan 3 Skenario Pertumbuhan Ekspor Non Migas
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance


Foto: Depdag
Jakarta - Pemerintah menyiapkan tiga skenario pertumbuhan nilai ekspor non migas Indonesia pada 2009. Rentang perkiraan pertumbuhan nilai ekspor non migas tahun ini berada di kisaran 4,3-8%.

Demikian disampaikan ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam briefing awal Tahun Menteri Perdagangan RI, di Gedung Depdag, Jalan M Ridwan Rais No 5,  jakarta, Selasa (6/12/2009).
 
"Untuk skenario optimisnya tumbuh 8%, skenario moderat tumbuh enam persen dan skenario rendahnya tumbuh 4,3 persen," ujarnya.
 
Mari menjelaskan trend ekspor non migas Indonesia di tahun 2008 memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 18%.

"Angka ini di atas rata-rata peningkatan impor dunia yang sekitar 16% dan melebihi target yang ditetapkan yaitu 14,5 persen," jelas Mari.
 
Dari total ekspor non migas tersebut, lanjut Mari, sekitar 50% nilainya disumbangkan oleh sepuluh komiditi ekspor utama. Pasar komoditi utama ini terkonsentrasi di 10 negara tujuan yaitu Amerika serikat, Jepang, Singapura, China, India, Jerman, Malaysia, Belanda, Korea selatan dan Inggris.
 
"Sepuluh negara tujuan utama itu menguasai lebih dari 60 persen dari total 10 komoditi ekspor utama Indonesia. Untuk komoditas seperti elektronik, karet dan produk karet, sawit, udang serta kakao konsentrasi pasar ekspor ke 10 negara utama sekitar 65-85%," jelasnya.
 
Jika terjadi goncangan ekonomi di 10 negara utama ini, imbuh Mari, maka dikhawatirkan akan mempengaruhi nilai dan volume ekspor Indonesia.

"Untuk itu diversifikasi pasar harus dilakukan, misalnya untuk udang dan kelapa sawit kita harus mencari pasar baru," jelasnya.
 
Mari menjelaskan diversifikasi pasar dilakukan kepada pasar Timur Tengah, beberapa negara Afrika seperti Nigeria, Kenya, Mesir, Irak dan Iran.

"Kami akan memfokuskan untuk komoditi seperti furniture, TPT dan  sepatu. Selain itu,  ikan dan udang harus bisa mencari pasar di luar Eropa," jelasnya.
 
Turunnya pertumbuhan nilai ekspor di 2009, imbuh Mari, maka akan menyebabkan pertumbuhan impor secara signifikan. Hal ini disebabkan penurunan investasi
turun, harga komoditi turun serta turunnya nilai ekspor turun.

"Sebab pengaruh pertumbuhan ekpor terhadap pertumbuhan impor sepertiganya sehingga neraca perdagangan akan kurang lebih sama atau turun sedikit dibanding tahun lalu," jelasnya.


(epi/lih)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!


Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :


Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).