Forum Finance
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Trade off kebijakan “kri... growth23
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Jumat, 12/03/2010 20:58 WIB
Laba Bank Syariah Bukopin Melonjak 110% -
Jumat, 12/03/2010 16:44 WIB
Lelang SBI Sebulan Sekali, Dana Perbankan Beralih ke SUN -
Jumat, 12/03/2010 15:06 WIB
Calon DG BI
Perry Warjiyo Akan Tegakkan Aturan Pengawasan Bank -
Jumat, 12/03/2010 13:40 WIB
BI: Kenaikan TDL Tak Pengaruhi Inflasi -
Jumat, 12/03/2010 12:58 WIB
BNI Incar Kredit Baru Korporasi Rp 45 Triliun di 2010 -
Jumat, 12/03/2010 12:02 WIB
Peruri Cetak 7,2 Miliar Bilyet Uang Kertas di 2010
Indeks Berita
Kamis, 09/04/2009 14:25 WIB
BI Rate Bisa Jadi 7% di Akhir 2009
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance

Foto: Dok detikcom
Hal ini dikatakan oleh Ekonom BRI Djoko Retnadi saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (8/4/2009) malam.
"Kalau saya prediksi sampai akhir tahun ini BI Rate bisa 7% jadi masih ada 50 bps untuk bisa turun. Pertimbangannya kalau di bawah 7% sensitif terhadap capital flight (pelarian modal), kalau dia tidak turun sentimennya tidak positif karena environment kita cenderung turun," tuturnya.
Djoko mengatakan dengan penurunan BI Rate sampai level 7% di akhir 2009, maka itu harusnya dapat direspon perbankan melalui penurunan suku bunga kreditnya.
Selain itu, mengenai tingkat kredit bermasalah (NPL) perbankan di 2009, Djoko mengatakan tidak akan sampai di atas 5%.
"5% mungkin 4,5%, tapi tidak sampai 5% itu angka psikologis dan bank akan all out melakukan berbagai macam usaha misalnya write off atau melalui ekspansi kredit yang selektif, itu akan mengurangi rasio NPL," ujarnya.
Sementara untuk sektor industri yang risiko kreditnya meningkat, menurutnya adalah sektor yang berorientasi kepada ekspor.
"Sektor yang berorientasi ekspor masih belum pulih apalagi yang terkait dengan impor content saya rasa itu yang paling kena, dan pulihnya lama. Kalau sektor properti di Indonesia bagus karena kita sudah punya pola banyak dikonstruksi, banyak dipengembang, kalau sekarang banyak di real estate dan hunian menengah bawah terlebih rusunami itu luar biasa," pungkasnya.
(epi/lih)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Bank Baru Berani Turunkan Bunga Kredit di Akhir Tahun
- Pengusaha Pertambangan Juga Desak Penurunan Suku Bunga
- Saatnya BI Realisasikan Pooling Fund
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




