Forum Finance
- Ndpbm... alvian19
- Blok Cepu... densol
- Hitung PPh 21 dengan muda... yukfa
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Selasa, 09/02/2010 17:36 WIB
32,5 Juta Orang Indonesia Berada di Level Kemiskinan Ekstrim -
Selasa, 09/02/2010 17:21 WIB
Dicari Hakim Agung Perpajakan -
Selasa, 09/02/2010 16:55 WIB
Pertumbuhan Ekonomi RI 2009 Diproyeksi 4,4-4,5% -
Selasa, 09/02/2010 16:27 WIB
PTPN XIV Masih Cicil Tunggakan Pajak Rp 60 Miliar -
Selasa, 09/02/2010 16:22 WIB
Produsen Terigu Desak Pemerintah Eksekusi BM Anti-Dumping -
Selasa, 09/02/2010 15:58 WIB
Perhutani Siap Bangun 2 Pabrik Gondorukem Rp 160 M
Indeks Berita
Rabu, 11/11/2009 18:42 WIB
Bisa Picu Inflasi, Pemerintah Jangan Genjot Anggaran Habis-habisan
Ramdhania El Hida - detikFinance

Foto: dok.detikFinance
Hal ini dijelaskan pengamat ekonomi Sustainable Development Indonesia (SDI) Dradjad Wibowo saat dihubungi wartawan sore ini (11/11/2009).
Berdasarkan data Departemen Keuangan, realisasi belanja negara baru terserap 68% dari Rp 1.000,8 triliun atau sebesar Rp 680,1 sedangkan realisasi belanja infrastruktur negara baru terserap 36,2% dari jumlah anggaran sebesar Rp 12,2 triliun atau sebesar Rp 4,4 triliun. Menurut Dradjad, suatu hal yang tidak mungkin untuk membelanjakan anggaran yang tersisa dalam waktu 2 bulan.
"Ini kalau dalam 2 bulan dipaksakan dibelanjakan tidak masuk akal karena akan menimbulkan dampak inflatoir dan hasilnya jadi tidak efektif," ujar Dradjad.
Dradjad menjelaskan kalau penerimaan dan belanja negara meleset dari target dari APBN maka akan menimbulkan masalah. "Sudah penerimaan meleset justru kok belanja digenjot seharusnya belanja tidak perlu dipaksakan karena bisa inflatoir tadi," jelas Drajad.
Jika inflasi naik, tambah Dradjad, maka akan memicu kenaikan BI Rate, padaha, untuk menggerakkan perekonomian dibutuhkan suku bunga rendah agar para pengusaha bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah oleh bank.
"Kalau belanja negara digenjot di akhir tahun akan menimbulkan inflatoir . Ini justru mempercepat kenaikan suku bunga dari yang diharapkan. Padahal kita sekarang lagi butuh suku bunga yang rendah," paparnya.
Oleh karena itu, Dradjad menyarankan agar pemerintah tidak memaksakan diri untuk menggenjot belanja tetapi menggenjot defisit. Dengan difisit yang rendah, akan berpotensi adanya SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) yang menjadi sumber pembiayaan pada 2010.
"Jadi sebaiknya memaksakan diri sehingga defisit tidak perlu terlalu tinggi. Dengan adanya defisit yang rendah tapi pembiayaan terlanjut penuh memang ada potensi terjadi SILPA. Ini bisa sebagai sumber pembiayaan di 2010," jelas Dradjad.
(nia/dnl)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Per 31 Oktober 2009
Realisasi Belanja K/L Baru 63,8% - Per 31 Oktober 2009
Defisit APBN Baru Capai Rp 42,7 Triliun - Pemerintah Targetkan APBN Senilai Rp 1.700 Triliun di 2014
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




