Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Senin, 15/03/2010 16:40 WIB
Kembangkan Sektor Pangan dan Energi, RI Gandeng Australia -
Senin, 15/03/2010 16:30 WIB
Harga Pertamax Cs Naik Rp 200-500 Per Liter -
Senin, 15/03/2010 16:30 WIB
Rangkap Jabatan Komisaris BUMN Dijamin Tak Picu Kartel -
Senin, 15/03/2010 16:10 WIB
Hatta: Kalau Mampu Jangan Beli Premium -
Senin, 15/03/2010 15:28 WIB
Pemerintah Tanggung Bea Masuk Impor Barang Telekomunikasi -
Senin, 15/03/2010 15:12 WIB
Per 11 Maret 2010
Penerimaan Bea dan Cukai Capai Rp 16,608 Triliun
Indeks Berita
Kamis, 12/11/2009 10:38 WIB
HIPMI: Pemadaman Listrik Bisa Picu Deindustrialisasi
Wahyu Daniel - detikFinance
Foto: dok.detikFinance
"Pemadaman ini sudah sangat meresahkan sebab bisa terjadi deindustrilisasi," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (12/11/2009).
Pemadaman listrik yang telah menjadi pemandangan sehari-hari ini, dikatakan Erwin, justru terjadi di kota-kota pusat pertumbuhan ekonomi nasional seperti Jakarta, Medan, dan Makassar.
HIPMI menilai bila persoalan listrik ini tidak segera diselesaikan, momentum percepatan pertumbuhan ekonomi nasional akan segera terganggu. Tak hanya itu, investor dipastikan akan kabur ke negara-negara Asean lainnya seperti Vietnam dan Malaysia .
Erwin mengatakan, peluang pertumbuhan ekonomi nasional sangat terbuka dengan suksesnya agenda politik nasional (Pemilu) 2009. Tak hanya itu, Indonesia juga masuk dalam kelompok 20 (G20) dimana kepercayaan asing meningkat atas masa depan ekonomi Indonesia .
Namun sayangnya momentum ini kembali dicederai oleh minimnya layanan listrik memadai untuk perumahan maupun industri besar dan kecil. Erwin mengatakan, berbagai kendala memang sudah melilit dunia investasi.
Kendala birokrasi, regulasi, infrastruktur, dan ketidakpastian hukum telah membuat investor berpikir banyak kali untuk masuk ke Indonesia .
"Daftar masalah itu diperpanjang lagi dengan kelangkaan listrik yang terjadi dimana-mana. HIPMI mengingatkan, bila masalah listrik ini tidak segera diselesaikan dalam waktu dekat, target pertumbuhan ekonomi bukan saja tidak tercapai, melainkan juga bisa terjadi relokasi pabrik ke negara-negara yang dinilai efisien dan memiliki ketersediaan energi yang murah dan cukup," tutur Erwin.
HIPMI mengingatkan lagi, pemadaman listrik ini akan membuat industri nasional semakin tidak bisa bersaing sebab target produksi tidak tercapai dan distribusi barang menjadi terlambat.
Selain itu, biaya produksi membengkak. Pembengkakan biaya ini nantinya akan dibebankan ke konsumen. Faktor inilah yang membuat produk Indonesia akan sulit bersaing di dalam maupun di luar negeri.
(dnl/qom)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
- Diskon Tarif Listrik 10%, Tak Mampu Tutupi Kerugian Pengusaha
- PLN Butuh Rp 32 Triliun Untuk Penuhi Listrik Nasional
- Kadin: Penetapan Tarif Listrik di Indonesia Tidak Rasional
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




