Berita Lain

Indeks Berita



Kamis, 12/11/2009 10:38 WIB
HIPMI: Pemadaman Listrik Bisa Picu Deindustrialisasi
Wahyu Daniel - detikFinance


Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Pemadaman listrik yang seringkali terjadi saat ini sudah sangat meresahkan kalangan pengusaha karena mengganggu kegiatan industri, dikhawatirkan pemadaman terus menerus ini bisa memicu deindustrialisasi.

"Pemadaman ini sudah sangat meresahkan sebab bisa terjadi deindustrilisasi," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (12/11/2009).

Pemadaman listrik yang telah menjadi pemandangan sehari-hari ini, dikatakan Erwin, justru terjadi di kota-kota  pusat pertumbuhan ekonomi nasional seperti Jakarta, Medan, dan Makassar.

HIPMI menilai bila persoalan listrik ini tidak segera diselesaikan, momentum percepatan pertumbuhan ekonomi nasional akan segera terganggu.  Tak hanya itu, investor dipastikan akan kabur ke negara-negara Asean lainnya seperti Vietnam dan Malaysia . 

Erwin mengatakan, peluang pertumbuhan ekonomi nasional sangat terbuka dengan suksesnya agenda politik nasional (Pemilu) 2009. Tak hanya itu, Indonesia juga masuk dalam kelompok 20 (G20) dimana kepercayaan asing meningkat atas masa depan ekonomi Indonesia .

Namun sayangnya momentum ini kembali dicederai oleh minimnya layanan listrik memadai untuk perumahan maupun industri besar dan kecil. Erwin mengatakan, berbagai kendala memang sudah melilit dunia investasi.

Kendala birokrasi, regulasi, infrastruktur, dan ketidakpastian hukum telah membuat  investor berpikir banyak  kali untuk masuk ke Indonesia .

"Daftar masalah itu diperpanjang lagi dengan kelangkaan listrik yang terjadi dimana-mana. HIPMI mengingatkan, bila masalah listrik ini tidak segera diselesaikan dalam waktu dekat, target pertumbuhan ekonomi bukan saja tidak tercapai, melainkan juga bisa terjadi relokasi pabrik ke negara-negara yang dinilai efisien dan memiliki ketersediaan energi yang murah dan cukup," tutur Erwin.

HIPMI mengingatkan lagi, pemadaman listrik ini akan membuat industri nasional semakin tidak bisa bersaing sebab target produksi tidak tercapai dan distribusi barang menjadi terlambat.

Selain itu, biaya produksi membengkak. Pembengkakan biaya ini nantinya akan dibebankan ke konsumen. Faktor inilah yang membuat produk Indonesia akan sulit bersaing di dalam maupun di luar negeri.  
(dnl/qom)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!


Komentar terkini (1 Komentar)

Baca juga :


Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).