Forum Finance
- Mendukung Menara BUMN seb... antoderman
- Mungkin G TAHUN 2014 ORG ... ipgiwantrisna
- Proses Penciptaan Uang Ol... jackganteng
- Kapitalis Vs Sariah... bramgreenday
- Indonesia akan jadi kekua... Obamafans
- cara radikal mengangkat n... pudjo26
Berita Lain
-
Rabu, 17/03/2010 20:23 WIB
Pemerintah Antisipasi Anjloknya Harga Beras -
Rabu, 17/03/2010 19:47 WIB
70% Jatah Raskin Sudah Tersalurkan -
Rabu, 17/03/2010 19:30 WIB
DPR Desak BPKP Selidiki Impor Minyak Pertamina -
Rabu, 17/03/2010 18:57 WIB
Pasca AC-FTA, Belum Ada Banjir Produk China -
Rabu, 17/03/2010 18:29 WIB
Dirjen Pajak: Tak Ada Perlakuan Khusus Buat Pejabat -
Rabu, 17/03/2010 17:56 WIB
Istana Siapkan Bakso Untuk Obama, Pedagang Bakso Resah
Indeks Berita
Kamis, 17/12/2009 18:27 WIB
Pengusaha Minta BPOM Siaga Satu Hadapi FTA ASEAN-China
Suhendra - detikFinance

Foto: dok.detikFinance
"Sekarang ini memang impor (kosmetik) tidak deras masuk. Kalau adanya FTA maka akan deras, apakah aparat BPOM cukup untuk menangani itu. Apakah secepat itu langsung rekrut 10.000 orang," kata Ketua Bidang Industri Perdagangan GP Jamu dan Ketua Perkosmi Putri K. Wardani saat ditemui di kantor APINDO, Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Putri menjelaskan pelaksanaan pelaksanaan perdagangan bebas memungkinkan produk-produk non standar dari China dan negara-negara ASEAN lainnya bisa masuk deras. Hal ini hanya bisa diatasi dengan penanganan razia di lapangan oleh BPOM termasuk untuk produk kosmetik, jamu, makanan, dan lain-lain.
"Jadi cuma satu harus periksa di lapangan sesuai standar keamanan di Indonesia," jelasnya.
Ia juga mengatakan peluang industri besar untuk menghadapi persaingan dengan produk-produk China relatif lebih kuat. Namun yang ia khawatirkan adalah industri-industri kecil dan menengah. "Yang saya khawatirkan adalah UMKM yang akan mati," katanya.
Putri menambahkan saat ini sebelum adanya FTA, pasar domestik untuk produk kosmetik sudah cukup banyak diserbu produk impor termasuk dari China bahkan banyak yang tidak berstandar. "Pasar kosmetik domestik Rp 30 triliun per tahun itu yang resmi, kalau yang tidak resmi itu samalah," katanya.
(hen/dnl)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
- Investasi Posco-Krakatau Terganjal FTA ASEAN-China
- Aturan FTA Disiapkan, 8.000 Komoditas Bebas Bea Masuk
- FTA ASEAN-China Berlaku, Penerimaan Bea Cukai Hilang Rp 15 Triliun
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).
Informasi pemasangan iklan
hubungi Ajeng di ajeng@detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.518).




